RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  M2 Juli 2026 Tembus Rp 10.371 Triliun, Kredit Just...

Ekonomi

M2 Juli 2026 Tembus Rp 10.371 Triliun, Kredit Justru Ngebut 13 Persen

Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8,3 persen secara tahunan pada Juli 2026, sedikit melambat dari Juni, namun pertumbuhan kredit malah mengakselerasi ke 13 persen.

Indonesia's Money Supply Jumps to IDR 9,891 Trillion in November - RRI.co.id

Posisi uang beredar dalam arti luas (M2) per Juli 2026 mencapai Rp 10.371,1 triliun, tumbuh 8,3 persen secara tahunan. Angka ini memang sedikit menyusut dari capaian Juni 2026 yang tumbuh 8,7 persen, tapi jangan buru-buru membacanya sebagai sinyal pelemahan.

Yang justru bikin kepala menoleh ada di sisi kredit. Penyaluran kredit tumbuh 13,0 persen pada Juli, naik dari 12,1 persen di bulan sebelumnya. Agaknya pelambatan M2 lebih banyak didorong oleh sisi fiskal ketimbang sektor riil yang kempis.

Dua komponen utama M2 bergerak dengan kecepatan berbeda. Uang beredar sempit atau M1, yang mencerminkan uang yang benar-benar aktif berputar di masyarakat, tumbuh 10,0 persen secara tahunan. Uang kuasi, yang mencakup deposito dan instrumen simpanan lain, tumbuh lebih lambat di angka 5,6 persen. Pola ini lazimnya menandakan aktivitas transaksi masih terjaga, meski hasrat masyarakat untuk menabung dalam bentuk deposito tidak secepat tahun lalu.

"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,0% (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,6 persen (yoy)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/8/2026).

Faktor lain yang menekan M2 datang dari tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Komponen ini tumbuh 4,6 persen pada Juli 2026, melorot jauh dari 10,1 persen di Juni. Bisa jadi pemerintah mulai menyerap lebih banyak likuiditas dari sistem keuangan lewat penerbitan surat utang atau mekanisme lain, sehingga saldo bersih yang tersisa di neraca BI mengecil. Kombinasi dua faktor inilah yang menjadi biang perlambatan M2.

Akselerasi kredit ke level 13 persen. Angka yang tidak main-main. Bagi pelaku pasar, ini sinyal yang lebih relevan untuk dicermati ketimbang angka M2 semata, karena menunjukkan sektor perbankan sedang dalam fase ekspansi sungguhan, bukan sekadar efek statistik. Bank-bank besar kemungkinan akan menorehkan pertumbuhan penyaluran pinjaman yang solid di laporan kuartal berikutnya, kabar baik buat investor yang megang saham emiten perbankan di portofolio.

Satu catatan teknis dari BI: angka kredit yang dilaporkan hanya mencakup pinjaman murni (loans), tidak termasuk surat berharga, tagihan akseptasi, maupun repo. Kredit kantor bank umum yang berdomisili di luar negeri dan pinjaman ke Pemerintah Pusat juga dikecualikan. Definisi ini penting agar investor tidak membandingkan apel dengan jeruk ketika menyandingkan data BI dengan laporan kredit individual bank.

Pertumbuhan M2 di kisaran 8 persen ini masih berada dalam koridor yang terbilang sehat untuk ekonomi dengan target pertumbuhan PDB sekitar 5 persen. Terlalu kencang, inflasi mengancam. Terlalu lambat, alarm resesi berbunyi. Sejauh ini, BI agaknya masih nyaman dengan trajektori yang ada, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cerminan kondisi sesungguhnya.