KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Kredit Multiguna Maret 2026 Melambat, Daya Beli Ja...

Ekonomi

Kredit Multiguna Maret 2026 Melambat, Daya Beli Jadi Biang Keroknya

Penyaluran kredit multiguna perbankan tumbuh 8,3% YoY per Maret 2026, melambat dari 8,7% di Februari. Di sisi lain, OJK mencatat bank semakin selektif menyalurkan KPR di tengah tekanan daya beli yang belum pulih.

Daya Beli Hambat Kredit Multiguna

Angka Rp 1.391,9 triliun memang terlihat besar. Yang lebih mengusik adalah trennya: kredit multiguna perbankan per Maret 2026 tumbuh 8,3% secara tahunan, lebih pelan dari 8,7% yang tercatat sebulan sebelumnya. Pelambatan ini bukan anomali, bukan juga kejutan bagi siapa pun yang sudah lama memperhatikan tekanan daya beli konsumen.

Data Bank Indonesia cukup gamblang soal ini. Kredit konsumsi, khususnya segmen multiguna, kehilangan tenaga di awal kuartal kedua. Padahal periode ini lazimnya jadi momen akselerasi. Entah kebetulan atau tidak, perlambatan terjadi bersamaan dengan melemahnya sejumlah indikator konsumsi rumah tangga, dari survei keyakinan konsumen sampai data penjualan ritel.

KPR pun senasib. Otoritas Jasa Keuangan angkat bicara soal ini, menyebut bank semakin selektif dalam menyalurkan kredit. Seberapa jauh kehati-hatian itu bersifat sementara atau justru menjadi pola baru, masih perlu dibuktikan.

Polanya bisa dibaca dua arah. Bank yang memperketat seleksi debitur sah-sah saja sebagai langkah prudent ketika ekonomi belum sepenuhnya solid. Tapi kalau rem terlalu kuat, pertumbuhan kredit yang sudah lesu bisa makin sulit dipacu. Ibarat pedang bermata dua: hati-hati itu perlu, tapi terlalu pelit kredit juga ada harganya.

Narasi manajemen bank-bank besar memang konsisten menyebutkan kehati-hatian sebagai prioritas sepanjang awal tahun ini. Bukan hal baru, tapi intensitasnya meningkat. Tekanan daya beli yang belum pulih membuat profil risiko debitur di segmen konsumer bergeser, dan kebijakan underwriting pun ikut menyesuaikan.

Bagi investor yang memeluk saham-saham bank ritel, angka-angka ini layak dicermati. Pertumbuhan kredit yang tergerus dua bulan berturut-turut, ditambah sinyal waspada dari OJK, berpotensi menekan proyeksi pendapatan bunga kuartal depan. Pertanyaannya: apakah pemulihan daya beli akan datang cukup cepat untuk membalik tren ini sebelum akhir semester?