SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Tersungkur Dihantam MSCI-FTSE, Enam Saham Bes...

Finansial

IHSG Tersungkur Dihantam MSCI-FTSE, Enam Saham Besar Dibuang

Rebalancing MSCI menendang enam saham dari indeks global termasuk AMMN, BREN, dan TPIA, sementara FTSE Russell ancam hapus saham HSC hingga ke nol. IHSG kian terpuruk ke level terendah hampir setahun.

Asing tampung saham TLKM hingga BBCA saat IHSG turun 1,43%

Enam saham berkapitalisasi besar sekaligus tersisih dari MSCI Global Standard Indexes dalam satu pengumuman. Bukan kabar ringan, terutama ketika pasar sudah telanjur fragile.

Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam rebalancing terbarunya resmi mengeluarkan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dari indeks globalnya. AMRT masih diberi tempat di MSCI Small Cap Indexes, tapi 13 nama lain, termasuk ANTM, AALI, BANK, dan BSDE, ikut terlempar dari sana. Pukulan beruntun. Pasar langsung merespons dengan keras.

Harga saham TPIA amblas 14,85% ke Rp4.300, DSSA anjlok 11,16% ke Rp1.035, BREN menyusut 11,36% ke Rp3.200, CUAN terperosok 10,05% ke Rp850, dan AMMN terkoreksi 9,09% ke Rp3.700 dalam sehari. Trio saham milik Prajogo Pangestu dihajar paling parah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terkoreksi 1,98% ke level 6.723,32 pada perdagangan Rabu (13/5), setelah sehari sebelumnya sudah lebih dulu jatuh 1,43% ke 6.807,13. Level terendah IHSG hampir setahun terakhir.

Belum selesai urusan MSCI, Rabu malam FTSE Russell menyusul dengan pengumuman yang agaknya lebih mengejutkan: saham-saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) akan dihapus dari indeksnya lewat mekanisme penilaian hingga nol, atau istilah teknisnya price to zero. Sinyal ini jelas ditujukan ke saham-saham dengan struktur kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi, yang dianggap berisiko bagi likuiditas dan sulit diperdagangkan oleh index tracking investors.

Investor asing angkat kaki. Net sell asing pada Rabu saja mencapai Rp1,53 triliun, sehingga akumulasi net sell sejak awal tahun membengkak ke Rp40,25 triliun. Sehari sebelumnya, pada sesi pertama Selasa (12/5), net sell asing di seluruh pasar tercatat Rp653,44 miliar, meski ada juga yang tampung di tengah kepanikan: nama-nama seperti TLKM dan BBCA.

"Apabila saham-saham dari Indonesia semakin berkurang di MSCI, ini menjadi salah satu kerugian tersendiri bagi pelaku pasar dan investor untuk bisa menarik masuk dan berinvestasi di pasar saham Indonesia, meskipun MSCI bukan patokan mutlak," ungkap Maximilianus Nicodemus, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas.

Pasar memang sudah sedikit mengantisipasi keputusan ini sejak beberapa pekan lalu, terutama setelah muncul sinyal pembekuan foreign inclusion factor. Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menilai tekanan kali ini relatif masih terkendali justru karena itu. Tapi ia mengingatkan bahwa potensi outflow tambahan masih terbuka hingga akhir Mei, mendekati tanggal efektif rebalancing. Saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI pun ikut tertekan, karena investor asing cenderung memangkas aset berisiko seiring penguatan dolar dan kenaikan yield US Treasury.

Pertanyaannya, seberapa dalam IHSG bisa terjerembab? Dari sisi teknikal, Analis Phintraco Sekuritas menyebut IHSG kini tengah menguji area support kritis di 6.750-6.800. Selama bertahan di atas level itu dalam 1-2 hari ke depan, pintu rebound ke 7.000 masih terbuka. Tapi kalau close di bawah 6.750, konfirmasi strong bearish dengan target second drop ke 6.400 bukan lagi sekadar skenario. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menambahkan, area support bisa melebar ke 6.762-6.745, bahkan membuka ruang penutupan gap di 6.538-6.092.

Reformasi pasar jadi tuntutan yang tidak bisa ditunda lagi. Budi Frensidy dari Universitas Indonesia menyoroti bahwa langkah OJK dan SRO terkesan reaktif, bukan preventif. Persoalan free float efektif, transparansi beneficial ownership, dan asimetri pengawasan seharusnya ditangani jauh sebelum menjadi catatan MSCI dan FTSE. Hans Kwee dari PasarDana menyebut Indonesia bisa belajar dari India yang berhasil memulihkan kepercayaan investor dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing dan memperkuat basis investor domestik.

Bagi investor jangka panjang, Hans melihat momen ini justru sebagai peluang akumulasi bertahap pada saham berkualitas yang valuasinya sudah terkoreksi dalam. Di pertengahan 2026, ia memproyeksikan IHSG kembali ke kisaran 7.000-7.200 seiring efektifnya rebalancing MSCI pada Juni. Sampai akhir tahun, target 7.600-7.800 masih masuk akal, dengan catatan konflik geopolitik di Timur Tengah benar-benar mereda. Entah kebetulan atau tidak, pasar yang paling solid sering kali justru lahir dari periode pembersihan seperti ini.