Pasar tandan buah segar sawit pekan ini mengirim sinyal yang membingungkan: dua provinsi penghasil utama bergerak ke arah yang berlawanan. Kalimantan Barat mencatat kenaikan harga TBS sebesar Rp22,07 per kilogram untuk periode II-Mei 2026. Sumut? Justru memangkas Rp72,11 per kilogram untuk periode 13-19 Mei 2026.
Koreksi di Sumut tergolong cukup dalam. Tim penetapan harga Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumatera Utara menetapkan harga TBS tanaman usia 10-20 tahun di angka Rp3.870,60 per kilogram. Tanaman muda usia 3 tahun dihargai Rp3.269,31 per kilogram. Puncak harga ada di tanaman usia 21 tahun, yakni Rp3.877,10 per kilogram, lalu turun konsisten seiring pertambahan usia pohon, agaknya mencerminkan penurunan produktivitas. Sawit usia 25 tahun, misalnya, sudah menyentuh Rp3.567,88 per kilogram, dan terus melorot hingga Rp3.325,72 di usia 30 tahun.
Harga CPO provinsi Sumut ditetapkan di Rp15.139,78 per kilogram, dengan harga kernel Rp14.785,67 per kilogram dan indeks K sebesar 93,27%. Indeks K setinggi itu, secara teknis, seharusnya menopang TBS. Tapi koreksi tetap terjadi. Bisa jadi ada tekanan di sisi rendemen aktual, atau pergerakan CPO di pasar referensi yang melaju lebih cepat dari jadwal penetapan resmi. Entah kebetulan atau tidak, polanya mirip dengan yang terjadi awal tahun lalu.
Sebaliknya, kenaikan di Kalbar memberi sedikit angin segar bagi petani Borneo, meski besarannya jauh lebih modest. Selisih antara dua provinsi ini hampir Rp94 per kilogram. Bukan main. Bagi pekebun mandiri yang margin-nya sudah tipis, angka itu bisa berarti beda antara untung tipis dan impas.
Divergensi harga antar provinsi seperti ini bukan fenomena baru di industri sawit Indonesia. Mekanisme penetapan TBS yang berbasis tim daerah memang dirancang menyesuaikan kondisi lokal: biaya transportasi, jarak ke pabrik kelapa sawit, kualitas buah. Pertanyaannya, kalau dua provinsi besar bergerak berlawanan dalam satu pekan yang sama, sinyal apa yang sedang dibaca masing-masing tim?
Bagi investor yang memegang saham emiten sawit, dinamika harga TBS tingkat daerah layak dijadikan proksi awal sebelum laporan keuangan kuartalan keluar. Emiten dengan eksposur besar di Sumut berpotensi merasakan tekanan margin lebih dulu. Yang berbasis di Kalbar, setidaknya untuk saat ini, masih bisa sedikit bernapas lega.