Harga minyak yang bertahan di level tinggi kini mulai memaksa bank sentral sedunia mengunci postur moneter mereka, tepat di saat banyak pelaku pasar berharap siklus pelonggaran suku bunga segera dimulai.
Gangguan jalur perdagangan energi global jadi bahan bakar utama kekhawatiran ini. Inflasi impor yang merangkak naik mempersempit ruang untuk memangkas suku bunga, bahkan di negara-negara yang sudah lebih dulu memberi sinyal dovish. Kuartal II-2026 diproyeksikan menjadi periode panas bagi otoritas moneter di sejumlah belahan dunia.
Di kawasan Asia Pasifik, tekanannya terasa merata. Bank of Korea, Reserve Bank of New Zealand, dan Reserve Bank of Australia ketiganya berhadapan dengan skenario yang sama: inflasi kawasan yang enggan turun, dipicu kombinasi harga energi tinggi dan rantai pasok yang belum pulih sepenuhnya. Singapura diperkirakan mencatat akselerasi inflasi pada April ke level 2,1%, cukup untuk membuat Monetary Authority of Singapore tetap berjaga.
Jepang kasus tersendiri. Bank of Japan, yang baru keluar dari era suku bunga negatif, kini menghadapi tekanan harga domestik yang konsisten. Peluang kenaikan suku bunga lanjutan tetap terbuka, dan pasar obligasi Tokyo sudah lebih dari sekali bereaksi nervus terhadap isyarat dari Kazuo Ueda. Bagi investor dengan eksposur ke yen atau JGB, ini bukan sinyal yang bisa diabaikan.
Australia tidak jauh beda. Inflasi inti RBA diperkirakan masih nangkring di atas target, membuat prospek rate cut dalam waktu dekat kian kabur. Pasar agaknya terlalu optimistis ketika memproyeksikan pemangkasan di semester kedua tahun ini, kalau data ini bisa dipercaya.
Bank Indonesia sudah bergerak lebih dulu. BI Rate naik ke 5,25% sebagai langkah antisipatif menjaga nilai tukar rupiah dari gejolak eksternal. Pemerintah tetap menyalurkan insentif likuiditas agar perbankan tidak terjepit dalam ketidakpastian ini. Faktor geopolitik turut memperkeruh gambaran, termasuk dinamika perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang langsung memengaruhi pergerakan harga komoditas di pasar internasional.
Dampak sektor riil sudah terasa. Harga kebutuhan pokok seperti cabai dilaporkan meroket, dan tekanan itu agaknya baru mereda kalau harga minyak ikut amblas, sesuatu yang belum ada kepastiannya.
Pertanyaannya sederhana: seberapa lama harga minyak bisa bertahan di level ini? Jawaban itulah yang menentukan kapan bank sentral dunia berani membuka kran pelonggaran moneter. Selama jawabannya masih kabur, portofolio yang overweight di aset berisiko patut diperhitungkan ulang.