Dengan MUFG sudah menggenggam 92,47 persen saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), sisa ruang publik yang tersisa hanya 7,53 persen. Rencana integrasi dengan MUFG Cabang Indonesia berpotensi membuat celah itu semakin sempit, dan pasar mulai bertanya: sampai kapan BDMN bertahan sebagai perusahaan terbuka?
Rencana ini diumumkan MUFG melalui keterbukaan informasi. Secara teknis, pengalihan aset dan liabilitas MUFG Cabang Indonesia ke Bank Danamon bisa ditempuh lewat penerbitan saham baru, atau yang lazim disebut inbreng, yakni menyerahkan aset sebagai setoran modal. Kalau rute itu yang dipilih, konsekuensinya langsung terasa: porsi MUFG naik, free float BDMN makin compang-camping.
Bursa Efek Indonesia sudah memperbarui aturan free float menjadi 15 persen dari total saham tercatat, naik dari sebelumnya 7,5 persen, dengan batas kepatuhan paling lambat 2028. Posisi free float BDMN yang kini hanya 7,53 persen sebenarnya sudah mepet bahkan sebelum integrasi menyentuh struktur saham sama sekali. Kalau proses penggabungan mendongkrak kepemilikan MUFG lebih jauh, kebutuhan refloat-nya bukan lagi soal angka kecil.
Analis Billy Ibrahim dari Shinhan Sekuritas menghitung, agar free float mencapai 15 persen, porsi MUFG perlu turun dari 92,47 persen ke sekitar 85 persen, dengan asumsi tidak ada perubahan struktur lain. "Dengan kepemilikan MUFG yang sudah sangat dominan, setiap tambahan saham pasca integrasi akan langsung menekan free float BDMN. Kalau free float turun di bawah batas minimum, pasar akan melihat dua kemungkinan besar, MUFG melakukan refloat atau justru membawa BDMN ke arah go private," ujar Billy.
Opsi refloat masih terbuka. Tapi angkanya tidak kecil, dan tekanan eksekusinya makin besar seiring porsi yang perlu dilepas ke publik, apalagi jika kondisi pasar tidak sedang berpihak pada penawaran saham jumbo.
Dari sudut pandang korporasi, go private justru bisa terasa lebih bersih. Kepemilikan penuh memberi MUFG keleluasaan menjalankan integrasi operasional, penyelarasan sistem, dan restrukturisasi internal tanpa harus menghadapi tekanan likuiditas saham maupun ekspektasi pasar jangka pendek yang kadang tidak sejalan dengan agenda transformasi jangka panjang. Pertanyaannya, berapa lama kesabaran investor minoritas bisa bertahan menunggu kejelasan itu?
"Di titik ini, pertanyaannya bukan hanya apakah BDMN bisa memenuhi free float, tetapi apakah MUFG masih melihat listing sebagai opsi paling strategis. Jika tujuan utamanya adalah integrasi penuh dan penyederhanaan struktur, go private bisa menjadi skenario yang lebih masuk akal," ujar Billy. Ia menambahkan, probabilitas go private akan meningkat tajam jika pengumuman integrasi tidak disertai rencana konkret untuk menjaga free float.
Dari sisi bisnis, skalanya memang menggoda. Aset BDMN tercatat Rp275,71 triliun, sementara MUFG Cabang Indonesia membawa Rp201,65 triliun. Gabungan keduanya secara pro forma bisa mendekati Rp477,36 triliun, angka yang cukup untuk mendongkrak BDMN ke kelas yang berbeda dalam peta perbankan nasional. Portofolio kredit pun berpotensi melonjak dari Rp159,29 triliun menjadi sekitar Rp265,75 triliun setelah menyerap kredit MUFG Cabang Indonesia sebesar Rp106,46 triliun.
Laba bersih pro forma-nya juga tidak bisa dianggap enteng: gabungan laba BDMN Rp4,19 triliun dan MUFG Cabang Indonesia Rp6,93 triliun menghasilkan angka sekitar Rp11,13 triliun. Bukan angka yang biasa-biasa saja.
Yang kini ditunggu investor minoritas bukan lagi proyeksi pro forma. Mereka mengincar satu angka: harga tender offer. Jika go private benar-benar menjadi pilihan MUFG, harga penawaran kepada pemegang saham publik akan menjadi pertarungan tersendiri, dan mereka yang nyangkut di harga tinggi tentu berharap MUFG tidak pelit soal exit.