Enam tahun surplus beruntun berakhir pada Mei 2026. Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$1,61 miliar, didorong ekspor yang ambles 5,73 persen ke US$23,20 miliar sementara impor melonjak 22,16 persen menjadi US$24,81 miliar, berdasarkan data BPS.
Menteri Perdagangan Budi Santoso memilih framing yang lebih kalem. Secara kumulatif Januari-Mei 2026, surplus masih ada di angka US$4,03 miliar, ditopang nonmigas US$16,31 miliar yang membantu menutup defisit migas US$12,28 miliar. "Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, secara kumulatif kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Ini membuktikan perdagangan nonmigas Indonesia tetap kokoh di tengah tantangan global," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta.
Tapi angka kumulatif itu perlu dibaca lebih jujur. Pada periode yang sama tahun lalu, surplus berdiri di US$15,38 miliar. Sekarang tinggal US$4,03 miliar. Penyusutan hampir 74 persen bukan angka yang bisa diselesaikan hanya dengan kalimat "masih surplus".
Seorang analis yang dihubungi IDNFinancials menggunakan analogi korporasi yang cukup menohok: surplus kumulatif itu ibarat retained earnings perusahaan yang masih positif karena menumpuk dari masa lalu, sementara tren bulanan menunjukkan bisnis sedang berdarah. "Dalam laporan keuangan perusahaan, bukan negara ya, kalau laba bersih turun 74 persen dibanding tahun sebelumnya, tidak ada CFO yang hanya mengatakan perusahaan masih untung tanpa menjelaskan mengapa labanya turun sedalam itu," katanya.
Tren bulanannya memang berat untuk dibela. Surplus menyusut dari sekitar US$3,32 miliar di Maret, terjun ke US$90 juta di April, sebelum akhirnya masuk zona merah di Mei. Bukan tiba-tiba. Ini hasil dari tren yang sudah terbentuk setidaknya sejak awal kuartal kedua.
Akar masalahnya terbagi dua. Pertama, sisi migas. Defisit sektor ini mencapai US$3,76 miliar hanya dalam satu bulan, bersumber dari perdagangan hasil minyak US$3,40 miliar dan minyak mentah US$0,70 miliar. Konflik Timur Tengah sejak 28 Februari menyulut harga minyak dunia, tapi pemerintah mempertahankan harga Pertalite dan Solar. Keputusan itu memang menahan inflasi dan menjaga daya beli, tapi konsekuensinya konsumsi BBM tidak turun ketika harga internasional naik, sehingga tagihan impor migas membengkak.
Tunggu, ada em dash yang lolos. Diperbaiki: konsumsi BBM tidak turun ketika harga internasional naik, sehingga tagihan impor migas membengkak tanpa ada yang mengerem.
Kedua, dan ini agaknya yang lebih struktural, soal logistik. Biaya logistik Indonesia tercatat 14,29 persen terhadap PDB, dengan komponen transportasi saja 8,79 persen. Bukan angka wajar untuk negara yang berambisi menjadi hub perdagangan regional. Ketika bahan baku harus diimpor dulu, baru disimpan dan didistribusikan lewat sistem yang mahal, biaya produksi berlapis. Di titik itulah daya saing ekspor tergerus bukan karena kualitas, tapi karena ongkos.
Impor bahan baku dan barang penolong pada Mei 2026 naik 25,17 persen menjadi US$17,58 miliar. Industri domestik masih sangat lapar input dari luar negeri untuk menjaga mesin produksi tetap berputar. Bukan cerita satu-dua bulan.
Pelindo mencatat throughput nasional mencapai 6,42 juta TEUs pada awal 2026, naik 7 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini terdengar meyakinkan, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi komoditas andalan seperti minyak sawit, batu bara, dan nikel mayoritas diangkut lewat bulk carrier atau tanker, bukan peti kemas. TEUs yang tumbuh lebih banyak merefleksikan pergerakan barang manufaktur dan setengah jadi, segmen yang justru masih defisit, bukan komoditas yang selama ini menopang surplus.
Struktur perdagangannya bicara sendiri. Surplus terbesar Januari-Mei 2026 masih datang dari lemak dan minyak hewani/nabati US$13,92 miliar, bahan bakar mineral US$10,88 miliar, serta besi dan baja US$7,09 miliar. Sementara defisit menganga di mesin dan peralatan mekanis minus US$12,74 miliar, mesin elektrik minus US$6,23 miliar, dan plastik minus US$3,74 miliar. Indonesia masih kuat jual komoditas, tapi belum cukup kuat produksi barang modal. Pola lama. Belum berubah.
Pertanyaannya, sampai kapan pola ini bisa bertahan? Selama harga sawit atau batu bara global tidak terjun, surplus itu masih ada di atas kertas. Begitu harga komoditas terkoreksi, angkanya bisa amblas dalam hitungan bulan. Mei 2026 bisa jadi bukan anomali, melainkan cermin retak dari struktur yang selama ini kita anggap kokoh.