JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Misteri Jalan Bersih Jepang: Di Mana Semua Tempat...

Internasional

Misteri Jalan Bersih Jepang: Di Mana Semua Tempat Sampahnya?

Jalanan Jepang bersih, tapi tempat sampah hampir tidak ada. Di balik fenomena itu tersimpan lapisan sejarah kelam, kebijakan fiskal, dan norma sosial yang terjalin selama puluhan tahun.

Ternyata Ini Alasan Kenapa di Jepang Minim Tempat Sampah

Bawa pulang sampahmu sendiri. Itu, secara tidak tertulis, yang diharapkan dari siapa pun yang berjalan-jalan di Tokyo, Kyoto, atau kota-kota Jepang lainnya, termasuk para wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Fenomena ini sudah lama jadi bahan perbincangan di media sosial. Video wisatawan yang menenteng gelas kopi kosong sambil kebingungan mencari tempat sampah selama berjam-jam keliling kota viral berkali-kali. Bukan lebay, bukan prank. Memang begitu adanya.

Tapi mengapa negara yang reputasinya hampir sinonim dengan kebersihan justru minim fasilitas paling dasar ini?

Jawabannya, agaknya, tidak sesederhana yang dibayangkan. Eiko Maruko Siniawer, profesor sejarah di Williams College sekaligus penulis buku Waste: Consuming Postwar Japan, menyebut fenomena ini sebagai "perpaduan kompleks dari perkembangan sejarah, fenomena ekonomi, peristiwa politik, dan beragam dampaknya terhadap cara orang memutuskan untuk bertindak."

Titik balik paling dramatis terjadi pada Maret 1995. Anggota kelompok Aum Shinrikyo menyebarkan gas sarin di tiga jalur kereta bawah tanah Tokyo saat jam sibuk, menewaskan 14 orang dan melukai ribuan lainnya. Setelah serangan itu, otoritas mulai menutup atau menghilangkan tempat sampah di ruang publik sebagai langkah pencegahan terorisme, khawatir kotak-kotak tersebut bisa dijadikan tempat menyembunyikan bahan berbahaya. Kebijakan itu kemudian mengeras setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat mendorong banyak negara memperketat standar keamanan publik.

Keamanan, bagaimanapun, hanya satu lapis dari cerita ini. Sejak tahun 2000-an, sejumlah pemerintah daerah secara aktif mengurangi tempat sampah di jalanan bukan karena ancaman teror, melainkan karena kalkulasi biaya. Aya Yoshida dari National Institute for Environmental Studies menjelaskan bahwa di Kyoto, jumlah tempat sampah di jalan dipangkas lebih dari separuh sejak 2011, setelah biaya pemeliharaan melonjak akibat warga membuang sampah rumah tangga ke dalamnya dan sampah yang menumpuk di sekitarnya. Tempat sampah umum ternyata mahal dikelola, dan pemerintah daerah memilih tidak menanggung beban itu.

Yoshida juga menepis anggapan bahwa kebersihan jalanan Jepang semata-mata produk dari "karakter bangsa" yang bawaan. Selama beberapa dekade, pemerintah daerah berinvestasi dalam kampanye antibuang sampah sembarangan, edukasi publik, pembersihan rutin, hingga desain lingkungan yang secara psikologis mendorong orang untuk tidak membuang sampah sembarangan. "Selama beberapa dekade, pemerintah daerah telah berinvestasi dalam kampanye antibuang sampah sembarangan, edukasi publik, pembersihan jalan, serta berbagai langkah desain lingkungan yang bertujuan mencegah orang membuang sampah sembarangan," kata Yoshida. Kebersihan itu hasil rekayasa sosial yang disengaja. Bukan kebetulan.

Di sisi budaya, ada konsep meiwaku o kakenai, kira-kira bermakna "jangan merepotkan orang lain", yang meresap dalam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Meninggalkan sampah di jalan dianggap membebani orang lain yang harus membersihkannya. Norma ini, dipadukan dengan kebiasaan tidak makan sambil berjalan atau di dalam kereta, membuat volume sampah yang dihasilkan saat beraktivitas di luar relatif kecil dibanding kebanyakan negara lain. "Ada juga lebih sedikit kesempatan untuk menghasilkan sampah selama perjalanan, karena makan sambil berjalan atau saat naik kereta bukanlah hal yang umum di Jepang," kata Siniawer.

Bagi wisatawan, adaptasi itu bisa terasa mengejutkan di awal. Junko Yokoo, pemandu wisata berbasis di Jepang, mengakui tamunya kerap mengeluhkan hal ini di hari-hari pertama. Lama-lama mereka belajar menerima mentalitas when in Tokyo, do as the Tokyoites do, termasuk soal sampah. "Awalnya, tamu saya sering mengeluhkan minimnya tempat sampah yang tersedia. Tetapi mereka juga menikmati jalanan yang tidak dipenuhi sampah dan akhirnya belajar menerima mentalitas 'ketika berada di Tokyo, ikuti kebiasaannya'," ujar Yokoo.

Tempat sampah sebenarnya masih ada, terutama di stasiun kereta besar, termasuk versi transparan yang diawasi petugas atau kamera keamanan. Di Stasiun Shinjuku, pada September 2026 bahkan mulai diuji coba robot tempat sampah yang berkeliling mengumpulkan sampah dari penumpang. Inovatif. Tapi jangkauannya masih jauh dari cukup untuk kota sebesar Tokyo.

Sampai fasilitas semacam itu tersebar luas, satu hal yang perlu diingat sebelum jalan-jalan di Jepang: kantong kecil di tas bukan aksesori, tapi kebutuhan.