Persediaan minyak dunia sedang digerus dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selat Hormuz yang tak kunjung dibuka? Bom waktu yang detak-nya makin keras.
IEA pekan ini mengeluarkan peringatan yang sulit diabaikan: harga minyak dan bahan bakar berpotensi melonjak menjelang puncak permintaan musim panas, seiring cadangan global yang menyusut akibat gangguan pasokan Timur Tengah yang berkepanjangan. "Cadangan yang menyusut cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang," tulis IEA dalam laporan bulanan terbarunya.
Angka-angkanya cukup untuk bikin pelaku pasar duduk tegak. UBS mencatat stok minyak global sempat berada di dekat level tertinggi satu dekade, sedikit di atas 8 miliar barrel pada akhir Februari. Hanya dua bulan berselang, akhir April, angka itu sudah tergerus ke 7,8 miliar barrel. Para analis UBS memproyeksikan penurunan lebih jauh ke 7,6 miliar barrel pada akhir Mei jika permintaan tidak berubah dari bulan ke bulan, level yang mendekati rekor terendah sepanjang masa.
Tapi yang paling bikin dahi berkerut bukan sekadar angka totalnya. JPMorgan, dalam catatannya tertanggal 30 April 2026, mengingatkan bahwa dari miliaran barrel itu, hanya sekitar 800 juta barrel yang benar-benar "bekerja" tanpa membebani sistem distribusi. Sisanya wajib ada untuk menjaga pipa dan tangki tetap terisi pada level minimum agar rantai pasokan global tidak kolaps. Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan, Natasha Kaneva, memakainya dengan analogi tubuh manusia: "Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, masalahnya adalah sirkulasi. Sistem tidak gagal karena minyak habis, tetapi karena jaringan sirkulasinya tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup," ujarnya.
Skenario terburuk JPMorgan menempatkan stok global di angka 6,8 miliar barrel pada September jika Hormuz belum juga terbuka. Rapidan Energy lebih pesimistis soal timing. Persediaan produk bahan bakar, bukan minyak mentah, bisa menyentuh level kritis lebih awal: Juli atau Agustus. Pada titik itu, ekonomi global bisa "macet total" karena infrastruktur transportasi tidak mampu memperoleh bahan bakar berapa pun harganya.
CEO Exxon Mobil Darren Woods, dalam paparan kinerja kuartal pertama perusahaan, mengakui bahwa stok komersial, cadangan strategis pemerintah, dan kapal tanker yang masih dalam perjalanan sejauh ini masih cukup meredam dampak gangguan selama Maret dan April. Namun Woods tegas soal batasannya: "Kami memperkirakan jika kondisi itu terjadi dan Selat Hormuz masih tetap ditutup, harga di pasar akan terus meningkat."
Pertanyaannya, seberapa cepat batas itu tercapai?
Para analis sepakat bahwa peluang stok benar-benar jatuh ke titik nadir itu relatif kecil. Sebelum sampai ke sana, harga akan melesat tajam lebih dulu, menekan permintaan dan memicu kontraksi ekonomi berat. "Kemungkinan besar itu akan terjadi sebelum kuartal III-2026," catat analis Rapidan. Kalau angka ini bisa dipercaya, window-nya jauh lebih sempit dari yang dibayangkan banyak orang.
Bagi investor di sektor energi domestik, ini bukan drama geopolitik dari kejauhan. Lonjakan harga minyak global punya konsekuensi langsung ke beban subsidi energi, inflasi, dan margin sektor-sektor yang rakus bahan bakar. Entah kebetulan atau tidak, emiten-emiten energi di bursa sudah mulai bergerak mendahului berita ini.