KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  BI Serap Rp15 Triliun di Lelang SRBI, Tenor Panjan...

Ekonomi

BI Serap Rp15 Triliun di Lelang SRBI, Tenor Panjang Jadi Primadona

Bank Indonesia memborong Rp15 triliun dalam lelang SRBI pada Rabu (1/7/2026), tiga kali lipat dari lelang sebelumnya, dengan menggeser alokasi besar-besaran ke tenor 12 bulan di tengah tekanan rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.960 per dolar AS.

Penyerapan SRBI Melonjak Tiga Kali Lipat - Market

Rp15 triliun dalam satu hari lelang bukan angka yang biasa keluar dari Bank Indonesia. Dibandingkan lelang SRBI sepekan sebelumnya pada 26 Juni yang jauh lebih konservatif, BI tercatat menyerap tiga kali lipat lebih banyak dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hari Rabu (1/7/2026). Lebih dari sekadar operasi pasar rutin.

Tapi bukan cuma volumenya yang layak diperhatikan. Ke mana uang itu dialokasikan justru lebih bicara banyak. Porsi SRBI tenor 12 bulan melonjak dari Rp8,85 triliun menjadi Rp13,5 triliun, sementara tenor 6 bulan dipangkas habis dari Rp4,35 triliun jadi hanya Rp600 miliar. BI agaknya sedang bermain di lini lebih panjang, bukan sekadar menyedot likuiditas jangka pendek. Ini pilihan yang disengaja.

Ada logika di balik pergeseran ini. Rupiah masih tertekan, bertahan di kisaran Rp17.960 per dolar AS pada awal pekan. Dengan mengunci likuiditas di tenor lebih panjang, BI seolah membentengi diri dari volatilitas arus modal yang bisa datang sewaktu-waktu. Ketidakpastian global belum juga mereda, dan bank sentral tampaknya tidak mau ketahuan lengah.

Di sisi yield, ada dinamika yang menarik untuk dibedah. Pada lelang sebelumnya, hanya sebagian kecil penawaran yang lolos karena BI membatasi penerimaan di 7,75%, sementara mayoritas investor justru mengajukan yield 7,7% hingga 8,69%. Kali ini investor datang dengan penawaran lebih realistis, berkisar 7,3% hingga 8,5%. Lionel Priyadi, Fixed Income and Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai pergeseran itulah kuncinya. "Maka penawaran yang bisa dimenangkan lebih banyak," sebut Lionel. BI hanya sedikit menurunkan batas penerimaan ke 7,74%, tapi cukup untuk menjaring jauh lebih banyak penawaran.

Hasilnya, yield SRBI tergerus di seluruh tenor. Tenor 6 bulan amblas paling dalam, minus 5,99 basis poin ke 7,36%. Tenor 9 bulan turun tipis 0,97 bps ke 7,54%, dan tenor 12 bulan terkoreksi 4 bps ke 7,7%. Bukan penurunan dramatis. Tapi arahnya jelas.

Bagi investor yang masih menimbang antara SRBI dan SUN, ada satu fakta yang patut dicermati: yield SRBI 12 bulan di 7,7% masih lebih tinggi ketimbang SUN tenor 10 tahun, dengan durasi yang jauh lebih pendek. Cuan lebih besar, risiko durasi lebih kecil. Bak gayung bersambut dengan selera pasar yang makin menghindari eksposur jangka panjang di tengah ketidakpastian ini.

Satu variabel bisa mengubah kalkulasi itu sepenuhnya. The Fed diproyeksikan masih akan menaikkan Fed Funds Rate dua kali, kemungkinan Oktober dan Desember. Kalau skenario itu terjadi, yield Treasury AS bakal naik dan modal bisa berhamburan keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pertanyaannya: apakah yield SRBI yang ada sekarang masih cukup kompetitif untuk menahan arus keluar itu? Belum ada jawaban pasti untuk itu.