KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  ASII Guyur Rp36 Triliun Capex, Tiga Bisnis Inti Ja...

Finansial

ASII Guyur Rp36 Triliun Capex, Tiga Bisnis Inti Jadi Tumpuan

Astra International menggelontorkan capex Rp17 triliun di paruh pertama 2026, mayoritas ke pertambangan. Di tengah tekanan laba dan persaingan otomotif yang kian sengit, manajemen justru mempertegas fokus pada tiga lini bisnis inti hingga 2027.

ASII Siapkan Investasi Besar di Tiga Bisnis Inti, Ini Prospek Sahamnya

Setengah jalan, PT Astra International Tbk (ASII) sudah menghabiskan Rp17 triliun dari total rencana capex Rp36 triliun sepanjang 2026, setara 42% dari anggaran tahunan yang sudah disiapkan sejak awal tahun.

Sebagian besar serapan itu datang dari satu transaksi besar: akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam melalui PT United Tractors Tbk (UNTR), ditambah pembelian alat berat untuk lini kontraktor pertambangan di grup yang sama. Ironisnya, sektor inilah yang justru menjadi biang keladi penurunan laba grup di semester I-2026.

Laba bersih ASII amblas 19% menjadi Rp12,5 triliun, tergerus non-recurring items senilai Rp2,4 triliun yang mencakup penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan impairment. Tanpa pos itu, laba bersih "bersih" tercatat Rp14,9 triliun, tetap turun 7% secara tahunan. Pendapatan konsolidasian turut menyusut 3% menjadi Rp157,9 triliun.

Angka yang tidak kecil untuk sebuah penurunan. Segmen solusi pertambangan dan alat berat mencatat kontraksi laba 46% di periode ini, cerminan dari tiga tekanan sekaligus: minimnya kontribusi divisi tambang emas yang baru diakuisisi, penjualan alat berat yang lesu, dan volume jasa penambangan batu bara yang tergerus.

Tapi manajemen tidak bergeming. Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, menegaskan bahwa sisa belanja modal akan dialokasikan jauh lebih selektif. "Untuk ke depannya, sisa belanja modal kami tentunya akan kami alokasikan untuk belanja modal yang lebih disiplin. Pastinya akan kami alokasikan untuk belanja modal yang mendukung pertumbuhan bisnis ke depannya," ujar Tira dalam Astra Media Day 2026, Rabu (23/9/2026).

Strategi itu diwujudkan dalam tiga lini bisnis yang dijadikan tumpuan hingga 2027: otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat. Tiga segmen ini menyumbang sekitar 90% dari total laba grup. Salah satu langkah konkret yang sedang diproses adalah rencana Voluntary Tender Offer (VTO) saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) di harga Rp3.600 per saham, dengan kebutuhan dana sekitar Rp858 miliar jika seluruh target saham berhasil diperoleh.

Di sisi otomotif, ada kabar yang agak kurang menyenangkan. Pangsa pasar ASII di segmen ini tercatat menyusut pada Agustus 2026, dihajar merek-merek non-Astra dan serbuan kendaraan listrik yang makin percaya diri merebut pasar. Karina Rusfidyawati, Retail Research Analyst BNI Sekuritas, menilai kompetisi di pasar otomotif semakin intens, terutama dari merek-merek baru yang kontribusinya terus menguat. Meski begitu, penjualan mobil Astra masih melesat 10% secara tahunan di semester I-2026, sementara laba bisnis otomotif naik 9% dan jasa keuangan mengikuti dengan pertumbuhan 6%.

Bagaimana prospek sahamnya? Elandry Pratama, analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menilai strategi fokus pada tiga bisnis inti ini agaknya cukup logis. Ketiga lini itu memang sudah memiliki skala, ekosistem, dan competitive advantage yang terbangun selama puluhan tahun. "Strategi ini juga bisa membuat belanja modal lebih disiplin dan diarahkan ke bisnis yang sudah memiliki skala, ekosistem, serta competitive advantage yang kuat," ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (23/9/2026).

Namun ia mengingatkan bahwa tantangan Astra justru terletak pada watak siklikal ketiga bisnis itu sendiri. Ketika pertambangan sedang kena tampar, otomotif dan keuangan harus menanggung beban. Keseimbangan antarsegmen menjadi kunci, bukan pilihan. Rencana share buyback hingga Rp8 triliun bisa jadi pemanis tersendiri dari sisi shareholder return, tapi langkah itu pula yang memicu pergeseran posisi kas neto ASII, dari kas bersih Rp7,2 triliun di akhir 2025 menjadi utang bersih Rp6 triliun per 30 Juni 2026. Perubahan posisi yang cukup drastis, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin kondisi neraca terkini.

Target harga dari Elandry berada di kisaran Rp7.000-Rp7.300, dengan strategi akumulasi bertahap alias buy on weakness. Katalis utama: pemulihan otomotif, normalisasi bisnis alat berat, dan pertumbuhan lanjutan di segmen pembiayaan. Risiko utama? Pemulihan pertambangan yang lebih lambat dari perkiraan, ditambah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.