KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Masa Tunggu 26 Tahun: Rencana Haji Tidak Bisa Lagi...

Finansial

Masa Tunggu 26 Tahun: Rencana Haji Tidak Bisa Lagi Ditunda

Kuota haji nasional 221.000 jemaah jauh dari cukup untuk melayani antrian yang kian panjang. BJB Syariah dan Bank Nagari kompak: perencanaan haji harus dimulai sejak usia produktif, bukan ketika pensiun sudah di depan mata.

Rencanakan ke Baitullah Sejak Usia Produktif, Insan Semen Padang Group Dibekali Literasi Keuangan Haji

Lebih dari 107 ribu warga Sumatera Barat sudah antre sebagai calon jemaah haji. Siapa pun yang mendaftar hari ini di provinsi itu harus bersabar sekitar 26 tahun sebelum benar-benar menginjak tanah Makkah. Bukan angka kecil, dan bukan masalah yang bisa dibereskan dengan menabung dadakan setahun sebelum keberangkatan.

Pertengahan September ini, dua kegiatan literasi keuangan haji berlangsung hampir bersamaan di dua kota berbeda. Di Bandung, PT Bank Jabar Banten Syariah Tbk (BJBS) menyasar Aparatur Sipil Negara lewat Program ASN Berhaji. Di Padang, Bank Nagari bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Kementerian Haji dan Umrah menggelar sosialisasi untuk hampir seratusan karyawan PT Semen Padang Group. Pesannya seragam: jangan tunggu pensiun.

"Jangan menunggu tua untuk mulai merencanakan haji. Karena ketika kita mulai lebih awal, ada waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan dana secara konsisten," ujar Direktur Bisnis BJB Syariah Adie Arief Wibawa. ASN, kata Adie, punya posisi yang menguntungkan karena penghasilan relatif stabil dan ada mekanisme payroll yang bisa dimanfaatkan untuk autodebet tabungan haji tiap bulan.

Nada serupa terdengar dari Padang. Direktur Keuangan Bank Nagari Roni Edrian menekankan bahwa perencanaan haji semestinya masuk ke dalam manajemen keuangan keluarga sejak awal karier. Kalau baru dipikirkan ketika mendekati purna bakti, beban dananya jauh lebih berat karena waktu mepet.

Secara nasional, Indonesia mendapat kuota 221.000 jemaah haji pada 2026, angka terbesar yang pernah diterima. Tapi tetap saja tidak sebanding dengan pendaftar yang terus membengkak. Di Sumatera Barat, 107 ribu nama dalam daftar itu berarti antrean dua setengah dekade. Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat Muhammad Rifki menyebut masa tunggu panjang itu seharusnya dibaca sebagai jendela persiapan yang produktif: kondisi fisik, pemahaman tata cara ibadah, administrasi.

BPKH turun langsung dalam kedua kegiatan ini. Anggota Badan Pelaksana BPKH Harry Alexander menegaskan bahwa dana setoran awal dikelola secara profesional lewat Safari Haji bertajuk "Tahari: Langkah Pasti Menuju Baitullah". Peserta sosialisasi di Padang bahkan langsung dikenalkan dengan aplikasi BPKH Apps, yang memungkinkan mereka memantau nilai manfaat, perkembangan dana, dan estimasi tahun keberangkatan secara real-time.

Di lapangan, pendekatan langsung ini punya efek nyata. Roni Putra, karyawan Semen Padang yang hadir, mengaku selama ini ragu memulai karena tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah dapat penjelasan, ia dan sejumlah rekan langsung membuka rekening haji di tempat acara. Begitu saja, tanpa perlu pikir panjang lagi.

BJB Syariah menawarkan produk Tabungan Haji iB Maslahah yang dirancang, agaknya sengaja, untuk menghilangkan alasan menunda: saldo awal Rp0, tanpa biaya administrasi bulanan, dan terintegrasi dengan Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT) Kementerian Haji dan Umrah. Adie menyebut tabungan haji bisa dibuka untuk anak-anak, menjadikannya semacam investasi jangka panjang keluarga. "Kalau mulai dipersiapkan sejak kecil, waktu yang tersedia menjadi lebih panjang sehingga kebutuhan dana dapat direncanakan secara lebih ringan," katanya.

Untuk menjangkau ASN di daerah tanpa kantor BJB Syariah, bank ini mengandalkan jaringan induknya, bank bjb, lewat konsep Layanan Syariah Bank Umum. Kolaborasi itu memperluas akses tanpa harus membangun infrastruktur baru.

Dua puluh enam tahun itu waktu yang panjang. Tapi justru karena panjang, kalau bisa mulai hari ini, kenapa harus menunggu?