John Ternus resmi memegang kendali Apple, dan salah satu hal pertama yang ia sampaikan ke publik bukan soal roadmap produk atau strategi AI, melainkan tentang kapan pengguna sebaiknya ganti iPhone. Jawabannya sederhana: terserah kamu.
Dalam wawancara dengan Canal+ Clique, Ternus menegaskan bahwa Apple sejak awal memang merancang produk untuk bertahan lama. "Kita memiliki pelanggan yang berbeda-beda. Ada pelanggan yang ingin meng-update ponselnya setiap tahun. Ada yang ingin menggunakan ponselnya selama ini. Itu bagus," katanya. Bagi sebagian analis, pernyataan itu terdengar counter-intuitive dari CEO sebuah perusahaan yang bergantung pada siklus upgrade. Tapi justru di situlah Ternus sedang membangun narasi: Apple tidak jual hardware saja, melainkan ekosistem yang dirancang untuk tidak mudah ditinggalkan.
Pernyataan soal longevity itu agaknya bukan sekadar filosofi produk. Ini sinyal ke pasar bahwa Apple tidak akan mengorbankan reputasi kualitas demi mendorong angka penjualan jangka pendek, klaim yang masih perlu dibuktikan di era persaingan AI yang makin sengit.
Jim Cramer di CNBC Mad Money menyusun semacam "master class" tentang warisan Tim Cook, menggunakan rekaman wawancara selama satu dekade. Argumennya tajam dan berbasis angka. Sejak Cook memimpin di 2011, jumlah saham Apple menyusut lebih dari 40% lewat program buyback, sementara dividen terus naik setiap tahun tanpa jeda. Hasilnya, saham Apple melesat sekitar 2.300% dalam periode itu, cukup untuk menyalip Nvidia sebagai perusahaan paling bernilai di dunia awal tahun ini. Bukan main.
Cramer juga membalik narasi bahwa Apple "tertinggal" di AI. Saat para hyperscaler seperti Microsoft dan Google membakar ratusan miliar dolar untuk infrastruktur pusat data, Apple justru menjaga belanja modal tetap rendah. Dari Google saja, Apple masih mengantongi sekitar US$20 miliar per tahun, semata agar mesin pencari itu tetap jadi default di iPhone. Kesepakatan yang, menurut Cramer, diam-diam lebih bernilai dibanding apa pun yang Apple keluarkan untuk kolaborasi AI dengan Gemini. Entah kebetulan atau tidak, angka itu hampir setara dengan anggaran capex AI tahunan beberapa perusahaan teknologi menengah.
"Pria ini tidak mendapat kredit yang layak ia terima," ujar Cramer soal Cook, sebuah kalimat yang ia sampaikan tepat saat tongkat estafet sudah berpindah tangan ke Ternus.
Tantangan Ternus nyata dan tidak ringan. Tekanan politik dari Washington soal rantai pasok chip mengeras, termasuk dorongan agar Apple memangkas ketergantungan pada komponen dari China. Biaya memori pun merangkak naik. Dua variabel itu bisa menggerus margin hardware yang selama ini jadi penopang ekosistem layanan Apple. Pertanyaannya, berapa lama fondasi warisan Cook mampu menahan beban transisi ini?
Itulah pertanyaan terbuka yang Cramer tinggalkan: apakah mesin buyback dan bisnis layanan warisan Cook sudah cukup untuk mempertahankan valuasi premium Apple, atau era kepemimpinan baru ini butuh gebrakan AI yang lebih konkret. Pasar tidak sabaran. Tidak pernah.