KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gletser Himalaya Mencair, 2 Miliar Jiwa di Ujung A...

Internasional

Gletser Himalaya Mencair, 2 Miliar Jiwa di Ujung Ancaman

Gletser Himalaya kini mencair dua kali lebih cepat dibanding dua dekade lalu, memperparah ancaman banjir bandang sekaligus krisis air bagi lebih dari 2 miliar penduduk Asia.

Pencairan Gletser di pegunungan Himalaya

Lebih dari 2 miliar orang di Asia menggantungkan hidup pada aliran air dari Pegunungan Himalaya, dan "tandon" raksasa itu kini sedang bocor dengan kecepatan yang membuat para ilmuwan tidak bisa lagi diam.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances oleh Columbia University pada 2019 mengonfirmasi apa yang sudah lama ditakutkan: lapisan es di Himalaya menipis dua kali lebih cepat dibanding periode sebelum tahun 2000. Penyebabnya tidak misterius. Suhu global terus merangkak, dan pegunungan kehilangan es jauh lebih cepat dari kemampuannya memulihkan diri.

Dampak paling langsung terasa di lembah-lembah di bawahnya. Ketika gletser mencair, terbentuklah danau glasial yang volumenya terus membesar, kondisinya kian labil. Saat tanggul alami jebol, banjir bandang menghantam desa, jembatan, dan infrastruktur dalam hitungan menit. Di Nepal, skenario semacam ini sudah lama bukan hipotesis.

Para penyintas banjir yang menghancurkan permukiman di sejumlah wilayah Nepal kini berjuang keras menata ulang hidup. Rumah hanyut, ladang hancur. Yang tersisa hanya pekerjaan memulai dari nol, sebagian dibantu lembaga-lembaga kemanusiaan termasuk organisasi amal Katolik. Cerita mereka adalah wajah nyata dari data iklim yang selama ini terasa abstrak di meja konferensi.

Krisis ini tidak berhenti di musim banjir. Polanya justru makin brutal: banjir di awal musim ketika es mencair terlalu cepat, lalu kekeringan di musim kemarau karena cadangan gletser sudah terkuras lebih awal. Petani di lembah sungai Gangga dan Brahmaputra bertumpu pada aliran yang konsisten untuk mengairi sawah. Ketika sungai mengering di waktu yang salah, gagal panen bukan lagi ancaman, tapi kepastian.

Pembangkit listrik tenaga air, tulang punggung energi di beberapa negara Asia Selatan, ikut kena tampar. Debit yang tidak menentu membuat kapasitas produksi listrik fluktuatif tak karuan. Ini bukan sekadar soal lingkungan. Ini soal ketahanan pangan dan energi jutaan orang yang tidak punya pilihan lain.

Negara-negara yang paling merasakan dampaknya justru bukan penghasil emisi terbesar. Gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer sebagian besar datang dari negara-negara industri maju, sementara petani di Nepal atau Bangladesh yang kena banjirnya. Ketimpangan itu agaknya masih akan terus menjadi perdebatan di forum-forum iklim internasional. Masalahnya, gletser tidak menunggu resolusi diplomatik untuk terus mencair.