KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Galaxy Watch Ultra2: Lima Sensor Biometrik untuk B...

Tekno

Galaxy Watch Ultra2: Lima Sensor Biometrik untuk Baca Pemulihan Tidurmu

Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur Vitals berbasis BioActive Sensor yang memantau lima indikator tubuh selama tidur, lalu mengolahnya menjadi tiga skor kesehatan harian yang mudah dibaca.

Galaxy Watch Ultra2 Andalkan Vitals untuk Baca Pemulihan Tubuh Saat Tidur

Tubuh tidak benar-benar "istirahat" saat tidur. Justru sebaliknya, sistem metabolisme bekerja keras melakukan regenerasi sel, menstabilkan fungsi organ, dan memulihkan cadangan energi. Masalahnya, semua proses itu berjalan di bawah alam sadar dan nyaris tidak bisa diukur tanpa alat. Samsung Galaxy Watch Ultra2 mencoba mengisi celah itu.

Perangkat ini mengandalkan komponen Samsung BioActive Sensor untuk merekam lima indikator vital sepanjang malam: detak jantung, heart rate variability (HRV), laju pernapasan, suhu kulit, dan saturasi oksigen darah (SpO₂). Bukan sekadar snapshot sesaat. Ini pemantauan kontinu yang butuh waktu minimal tujuh malam berturut-turut sebelum perangkat bisa membentuk baseline personal yang presisi.

Sepanjang tujuh malam pertama itu, Galaxy Watch Ultra2 belajar mengenali ritme biologis penggunanya sendiri. Barulah setelah baseline terbentuk, setiap anomali dalam data tidur bisa dibaca sebagai sinyal, bukan sekadar fluktuasi acak.

Data mentah tersebut kemudian diolah Samsung Health lewat One UI 9 Watch menjadi tiga skor yang lebih mudah dicerna. Heart Health Score mempertimbangkan durasi tidur, BMI, aktivitas fisik, dan beban vaskular. Sleep Score mengevaluasi kualitas istirahat dari sisi durasi, efisiensi, serta komposisi fase tidur: light, deep, dan REM. Energy Score, sementara itu, memberikan estimasi sisa stamina untuk hari berikutnya, dihitung dari rekam jejak aktivitas fisik dikurangi kualitas pemulihan malam.

Tipe Sultan, MX Product Marketing Manager Samsung Electronics Indonesia, menyebut data tidur sebagai konteks yang selama ini sering dilewatkan. "Padahal, kondisi tubuh saat tidur juga memberikan konteks penting mengenai pemulihan. Melalui Vitals dan Heart Health Score di One UI 9 Watch, Galaxy Watch Ultra2 membantu mengubah data tersebut menjadi insight yang lebih mudah dipahami," katanya.

Aktor Maxime Bouttier, yang masuk dalam jajaran #TeamGalaxy, mencatatkan Heart Health Score 79, Sleep Score 67, dan Energy Score 74 dari pemakaian rutinnya. Dari sana ia menemukan satu benang merah: inkonsistensi waktu tidur yang jadi biang keladi skor pemulihan kurang optimal. Angka yang, jujur saja, bukan tak mungkin familiar bagi siapa pun dengan jadwal berantakan.

Namun ada batas yang tidak boleh dilupakan. Dr. Gia Pratama, dokter sekaligus penulis yang turut bicara dalam peluncuran perangkat ini, mengingatkan bahwa skor dari jam tangan pintar berfungsi sebagai indikator kecenderungan gaya hidup, bukan pengganti diagnosis medis. Anomali data yang muncul konsisten tetap perlu dibawa ke dokter.

Dr. Gia juga memperkenalkan metode 4-3-2-1 sebagai ritual pra-tidur yang bisa dipadankan dengan data dari smartwatch: hentikan aktivitas fisik berat empat jam sebelum tidur, hindari makanan berat tiga jam sebelumnya, batasi asupan cairan dua jam sebelumnya, kurangi paparan layar satu jam sebelum merebahkan diri. "Kalau metode 4-3-2-1 ini dijalankan terus-menerus, seminggu saja, akan terasa bedanya saat bangun pagi. Tetapi yang perlu diingat, rutinitas yang terlalu banyak justru tidak akan dijalankan," tegasnya.

Dari sisi rancangan fisik, Samsung memangkas ketebalan Galaxy Watch Ultra2 menjadi 10,7 mm, 12% lebih tipis dari generasi sebelumnya. Tali berbahan air pocket diklaim 26% lebih ringan. Baterai 800 mAh, 35% lebih besar dari pendahulunya, dirancang agar pelacakan tidak terputus tengah malam. Perangkat ini juga dibekali Google Gemini dengan fitur Raise to Talk, memungkinkan pengguna meminta saran optimasi kamar tidur secara hands-free.

Pertanyaannya bukan lagi soal akurasi teknologi ini. Pertanyaan yang lebih menohok: seberapa banyak pengguna yang mau repot membaca datanya dan benar-benar mengubah kebiasaan tidur mereka?