Sepanjang tahun 2026, pemegang SBN tenor 10 tahun sudah menanggung kenaikan yield sekitar 135 basis poin dari 6,07% di akhir 2025 menjadi 7,42% per pertengahan Juni. Harga obligasi mereka tergerus cukup dalam, meski kupon tetap mengalir. Itulah konteks yang perlu diingat ketika membaca sinyal konstruktif yang muncul di awal pekan ini.
Yield Surat Utang Negara (SUN) di sebagian besar tenor menengah hingga panjang mulai melunak. Tenor 8 tahun mencatat penurunan paling tajam, turun 5,3 basis poin (bps) ke 7,11%. Tenor 5 tahun terkoreksi 3,9 bps menjadi 7,10%, sementara tenor 15 dan 16 tahun masing-masing turun 2,4 bps dan 4,6 bps ke 7,26% dan 7,30%.
Tenor acuan 10 tahun? Nyaris tak bergerak di 7,15%. Pasar agaknya masih menunggu katalis yang lebih konkret sebelum berani ambil posisi lebih agresif.
Struktur kurva imbal hasil pun masih cenderung datar, bahkan sedikit inverted di ujung pendek. Yield SUN tenor 1 tahun bertengger di 7,16%, selisih sekitar 1,1 bps di atas tenor 10 tahun. Inversi kecil seperti ini bukan angka besar, tapi pesannya cukup jelas: pasar masih memandang risiko jangka pendek lebih tinggi dibanding prospek jangka panjang, cermin retak dari kekhawatiran terhadap ketidakpastian dalam waktu dekat.
Ketidakpastian itu datang dari beberapa arah sekaligus. Negosiasi Amerika Serikat dengan Iran belum mencapai titik terang, spekulasi soal arah kebijakan moneter The Fed terus bergulir. Toh, minat terhadap SBN ternyata masih terjaga.
Ada faktor domestik yang ikut menopang. Hasil Bloomberg Survey terhadap 20 ekonom dan analis menempatkan median proyeksi inflasi di 3,2%, naik tipis dari posisi Mei yang sebesar 3,08%. Kalau proyeksi itu terbukti, Bank Indonesia punya ruang yang lebih lega. Banyak investor kini memperkirakan siklus pengetatan moneter sudah mendekati puncaknya dan tekanan harga akan semakin terkendali beberapa kuartal mendatang.
Permintaan SBN pun diproyeksikan meningkat, bak gayung bersambut dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga yang mulai menguat. Efek Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang diperkirakan mendongkrak kebutuhan penempatan dana juga disebut-sebut sebagai salah satu pendorong.
Bagi investor yang sudah nyangkut sejak awal tahun, pertanyaannya bukan sekadar kapan yield turun. Melainkan seberapa jauh dan seberapa cepat. SBN 2 tahun sudah naik sekitar 207 bps sepanjang 2026 ini, dari 5,00% di akhir 2025 ke 7,07% per 16 Juni. Angka yang tidak main-main. Pemulihan harga butuh penurunan yield yang konsisten, dan itu sangat bergantung pada dua hal yang masih penuh tanda tanya: kebijakan The Fed dan keputusan BI.