RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Tiga Skenario Krisis Hormuz dan Inflasi AS yang Mu...

Finansial

Tiga Skenario Krisis Hormuz dan Inflasi AS yang Mulai Menjalar

Harga minyak Brent berpotensi menembus US$200 per barel jika krisis Selat Hormuz melebar jadi konflik regional. Sementara itu, inflasi AS sudah mulai terasa panas bahkan sebelum skenario terburuk terjadi.

Tiga Skenario Krisis Migas akibat Perang Iran

Pekan terakhir Mei 2026, harga minyak Brent sempat melandai ke kisaran US$103-104 per barel setelah muncul laporan bahwa pembicaraan AS-Iran yang dimediasi Pakistan menunjukkan sedikit kemajuan. Pasar memang mudah euforia soal harapan damai. Tapi kelegaan itu, kalau data pergerakan kapal di Selat Hormuz bisa dijadikan patokan, agaknya terlalu dini.

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Melalui celah sempit di ujung Teluk Persia ini mengalir sekitar seperlima konsumsi minyak global, seperempat perdagangan minyak maritim dunia, dan hampir seperlima perdagangan LNG global. Gangguan di sana bukan hanya soal harga minyak, ia menjalar ke gas, pupuk, pangan, inflasi, dan stabilitas fiskal negara-negara importir energi yang tidak punya bantalan cukup.

Ada tiga skenario yang perlu diletakkan di meja para pelaku pasar, bukan sebagai prediksi tunggal, melainkan sebagai peta risiko. Tiga variabel yang membedakannya: berapa lama Hormuz terganggu, apakah diplomasi AS-Iran menghasilkan sesuatu yang konkret, dan apakah konflik tetap terbatas atau melebar.

Skenario pertama, yang paling banyak dibahas di ruang trading sekarang, adalah gangguan parsial tanpa terobosan diplomatik besar. Tidak ada penutupan Hormuz total. Cukup ketidaknyamanan yang membuat kapal menunggu, premi asuransi melonjak, dan sebagian pengiriman tertunda. Di pasar energi, keterlambatan beberapa hari saja di jalur sepenting Hormuz sudah cukup berubah jadi premi harga. Kehilangan pasokan "efektif" di kisaran 2-5 juta barel per hari, dan Brent berpotensi bergerak ke US$115-130 per barel. Mahal, tapi belum merusak sistem.

Skenario kedua jauh lebih serius. Ini yang terwujud kalau negosiasi macet melewati pertengahan tahun. Pada titik itu, pasar tidak lagi membaca Hormuz sebagai risiko sementara. Iran tidak perlu mengumumkan penutupan resmi, ancaman yang cukup kredibel dari ranjau laut, rudal, atau drone sudah cukup membuat operator kapal dan perusahaan asuransi mundur. Bedanya dengan skenario pertama: pasar tidak lagi sekadar menghitung premi risiko. Ia mulai memperhitungkan minyak yang benar-benar gagal tiba di pasar. Gangguan besar bisa memaksa shut-in produksi negara-negara Teluk hingga mendekati 10 juta barel per hari. Setelah memperhitungkan jalur alternatif dan cadangan strategis, kehilangan pasokan efektif global bisa mencapai 10-15 juta barel per hari, dan Brent bisa terbang ke US$140-180 per barel. Waktunya menjadi sangat buruk bagi Eropa jika gangguan berlanjut sampai September, persis ketika mereka sedang berpacu mengisi cadangan untuk musim dingin, di pasar LNG global yang sudah ketat dari sebelumnya.

Skenario ketiga adalah yang paling ekstrem. Tidak bisa diabaikan. Ini terjadi kalau krisis Hormuz menarik aktor-aktor regional masuk ke lingkaran konflik yang lebih luas: Houthi kembali menghajar Laut Merah, terminal ekspor Irak di Basra terganggu, infrastruktur minyak Arab Saudi atau UEA jadi sasaran. Dunia tidak lagi menghadapi satu titik gangguan, melainkan gangguan simultan di beberapa simpul energi utama sekaligus. Kehilangan pasokan efektif bisa menembus 18-25 juta barel per hari, dan Brent bisa menembus US$200 per barel. Bukan semata karena kelangkaan fisik dalam angka absolut, tapi karena pasar kehilangan patokan harga ketika tidak ada yang tahu kapal mana yang masih bisa berlayar dan kontrak mana yang masih bisa dipenuhi. Premi ketidakpastian, bukan kekurangan fisik, yang mendorong harga ke level itu.

Ketiga skenario ini punya logika eskalasi yang saling terhubung. Skenario pertama bergeser ke kedua kalau negosiasi AS-Iran macet melewati pertengahan tahun. Skenario kedua bergeser ke ketiga kalau konflik berhasil menarik aktor regional ke dalam lingkaran yang lebih luas. Dalam perang kawasan, risiko terbesar sering bergerak melalui salah hitung dan serangan balasan, bukan keputusan yang direncanakan.

Yang membuat situasi ini lebih gawat, transmisi ke inflasi sudah mulai terjadi, bahkan sebelum skenario terburuk terealisasi. Indikator inflasi favorit The Fed, indeks PCE, diperkirakan naik ke 3,8% secara tahunan pada April 2026 dari 3,5% di Maret, naik satu poin persentase hanya dalam dua bulan, laju tercepat sejak akhir 2021. Yang lebih mengkhawatirkan, inflasi inti AS, yang sengaja mengecualikan energi dan pangan, ikut merayap naik ke 3,3%, tertinggi sejak akhir 2023. Angka ini menegaskan bahwa dampak perang sudah mulai menjalar ke biaya produksi, distribusi, hingga konsumsi rumah tangga.

The Fed kini berdiri di persimpangan yang tidak nyaman. Menahan inflasi energi yang terus menular, atau menjaga pertumbuhan agar tidak amblas terlalu dalam. Tidak ada pilihan yang enak. Pasar sudah mulai mempricingnya.

Bagi investor di pasar modal Indonesia, ini bukan sekadar tontonan dari jauh. Kenaikan biaya energi dan pangan menekan margin emiten yang bergantung pada bahan baku impor, sementara tekanan inflasi global mempersulit ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter. Emiten berbasis komoditas energi domestik mungkin tersenyum tipis, tapi sisanya perlu menghitung ulang asumsi biaya mereka untuk paruh kedua 2026. Pertanyaannya bukan lagi apakah dampaknya akan terasa, tapi seberapa cepat.