Ketua Komite Pengawasan DPR AS James Comer mengirim surat resmi kepada tiga platform kripto dan prediction market pada 29 September, menuntut penyerahan dokumen paling lambat 13 Oktober. Hyperliquid, Crypto.com, dan Aristotle Exchange selaku operator PredictIt kini resmi masuk radar Kongres, memperluas penyelidikan yang sudah berjalan sejak Mei 2026.
Dua kasus mendorong eskalasi ini. Pertama, seorang Sersan Mayor Angkatan Darat AS bernama Gannon Ken Van Dyke didakwa secara federal karena memakai intelijen militer rahasia terkait Operasi Absolute Resolve, operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, untuk memasang taruhan di Polymarket. Keuntungannya: lebih dari US$409.000. Van Dyke mengajukan pembelaan tidak bersalah, dan tuduhan ini belum berkekuatan hukum tetap.
Kasus kedua? Jauh lebih besar skalanya.
Di Hyperliquid, seseorang membuka posisi short senilai US$1,1 miliar pada kontrak abadi Bitcoin dan Ether, sekitar 30 jam sebelum Presiden Trump mengumumkan tarif 100% terhadap Cina pada Oktober 2025. Satu wallet bahkan tercatat menambah posisi satu menit sebelum postingan Trump muncul. Ketika pasar ambruk dan US$19 miliar taruhan berleverage hangus seketika, wallet itu keluar dengan cuan lebih dari US$150 juta. Penyelidik on-chain menghubungkan wallet tersebut dengan Garrett Jin, mantan CEO BitForex. Jin membantah, mengklaim ia hanya trading untuk klien.
Kongres memang belum bisa membuktikan ada informasi bocor. Tapi timingnya sulit diabaikan, dan itulah yang menggerakkan Comer. "Seiring prediction market online berkembang dan makin umum digunakan, segelintir oknum memanfaatkan platform ini untuk meraup ribuan dolar dengan bertaruh berdasarkan info yang belum dipublikasi," tegasnya.
Masing-masing platform menghadapi permintaan yang berbeda. Untuk CEO Crypto.com Kris Marszalek, Kongres ingin tahu soal celah verifikasi identitas antara platform internasional dan entitas derivatif AS-nya, Crypto.com Derivatives North America. Ada juga pertanyaan spesifik: apakah ada karyawan internal yang trading sebelum pengumuman perusahaan, dan apakah pejabat pemerintah bertaruh pada hasil regulasi kripto. Pertanyaan yang tidak kecil.
PredictIt mendapat sorotan tersendiri. Platform ini diminta menjelaskan dampak penghapusan batas jumlah trader per kontrak berdasarkan Surat CFTC No. 25-20, apakah pelonggaran itu mendongkrak likuiditas, memperbesar skala perdagangan, atau justru mempersulit deteksi insider trading. Kalau data ini bisa dipercaya, perubahan aturan itu punya konsekuensi yang belum sepenuhnya terpetakan. Platform ini bahkan diminta memberikan pengarahan langsung di tingkat staf.
Gambaran besarnya perlu dipahami. Prediction market berbasis saham seperti Polymarket, yang meluncurkan pasar untuk saham individu sejak Oktober lalu, telah memproses taruhan lebih dari US$220 juta pada sekitar 31.000 kontrak terkait ekuitas hingga awal September. Hampir 60% dari nilai itu ditempatkan pada saham individual, dengan Nvidia, Alphabet, Apple, dan Tesla sebagai yang paling ramai diperdagangkan. Satu wallet saja tercatat menaruh US$175.000 melalui sekitar 1.300 perdagangan kontrak Apple.
Platform-platform ini beroperasi 24 jam, tanpa aturan perlindungan investor seperti di bursa teregulasi. Bagi Yesha Yadav, Associate Dean di Vanderbilt University Law School, ini bukan sekadar inovasi yang patut disambut. "Ini adalah batas baru bagi struktur pasar. Ini adalah inovasi dengan steroid," ujarnya, seraya mendesak regulator untuk segera turun tangan.
SEC menolak berkomentar. CFTC tidak merespons. Tapi kedua lembaga itu sebelumnya menyatakan sedang meninjau aturan yang berlaku untuk prediction market berbasis saham.
Penyelidikan Comer sejauh ini sudah mengumpulkan hampir 1.000 dokumen dan lima sesi paparan dari Kalshi dan Polymarket. Pertanyaannya, berapa lama tiga platform baru ini bisa mengelak? Kini giliran mereka membuktikan bahwa platform mereka bukan sekadar kasino dengan antarmuka yang lebih rapi.