Sudah Rp750 miliar kas yang digelontorkan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) untuk membeli kembali sahamnya sendiri sepanjang tahun ini. Dan angka itu belum berhenti.
Emiten properti milik grup PIK2 ini resmi memulai program buyback ketiga senilai Rp250 miliar pada 20 Agustus 2026, berlangsung hingga 19 November 2026. Dana sepenuhnya bersumber dari kas internal perseroan, sudah termasuk biaya transaksi. PT Ciptadana Sekuritas Asia ditunjuk sebagai pelaksana di pasar reguler Bursa Efek Indonesia.
Ini bukan kejutan. CBDK lebih dulu melakukan buyback pada Februari 2026 dengan alokasi Rp250 miliar, lalu diulang pada Mei 2026 dengan nilai yang sama. Tiga kali dalam setahun. Pola seperti ini agaknya mencerminkan betapa dalam tekanan yang dirasakan manajemen terhadap pergerakan harga saham perseroan.
Saham CBDK ditutup di Rp3.790 per saham pada 19 Agustus 2026, sudah amblas 55,41% sejak awal tahun. Jauh melampaui koreksi IHSG yang tercatat minus 26% dalam periode yang sama. Induknya, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), juga kena tampar habis: tergerus 51,79% year to date.
Manajemen CBDK menegaskan kondisi ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan. "Pembelian kembali saham dimaksudkan untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar pada saat indeks harga saham sedang berfluktuasi," tulis perseroan dalam keterbukaan informasi kepada BEI. Sekretaris Perusahaan PANI, Christy Grassela, menambahkan bahwa saldo kas dan bank CBDK masih mumpuni untuk menjalankan buyback periode ketiga ini tanpa mengganggu operasional maupun rencana investasi.
Apakah pasar akan percaya begitu saja? Belum tentu.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, buyback Rp250 miliar pada dasarnya belum tentu mengganggu arus kas CBDK secara material, selama dana yang dipakai memang belum dialokasikan untuk kebutuhan ekspansi atau modal kerja utama. Yang lebih perlu diperhatikan, kata Nafan, adalah fakta bahwa ini sudah kali ketiga manajemen melakukan aksi serupa. "Artinya, manajemen tampaknya melihat harga saham saat ini sudah berada pada level yang dianggap tidak merefleksikan nilai intrinsik maupun prospek fundamental perseroan," ujarnya.
Buyback berkelanjutan, lanjut Nafan, hanya berfungsi sebagai supporting factor. Bukan katalis tunggal. Jika sentimen terhadap sektor properti dan grup PIK2 masih negatif, efek buyback terhadap harga saham tidak akan otomatis permanen. Risiko baru muncul apabila perseroan terlalu agresif menggunakan kas untuk buyback sementara kebutuhan investasi dan pengembangan kawasan justru meningkat.
Dari sisi valuasi, koreksi dalam yang sudah terjadi membuat CBDK diperdagangkan di kisaran PER 6,38x, kalau ini angka yang bisa dipercaya, jauh lebih murah dibanding induknya PANI yang masih berada di PER sekitar 32,84x. Tapi PER murah tidak otomatis berarti rebound segera terjadi. Pasar masih mempertanyakan keberlanjutan laba setelah proyek-proyek tertentu terealisasi, dan seberapa cepat monetisasi kawasan CBD PIK2 dapat berjalan sesuai ekspektasi.
Nafan merekomendasikan add untuk CBDK dengan target harga Rp4.170 per saham, yang berarti ada potensi upside sekitar 10% dari posisi penutupan terakhir. Katalis utama tetap bergantung pada hal-hal yang lebih konkret: pertumbuhan pre-sales, pengakuan pendapatan dari proyek yang berjalan, serta kemampuan perusahaan membuktikan bahwa ekspektasi besar yang pernah dipricing pasar memang bisa dieksekusi.
Selama buyback berlangsung, seluruh jajaran manajemen CBDK beserta afiliasinya dilarang melakukan transaksi atas saham perseroan. Mayoritas saham CBDK kini dikuasai PANI sebesar 87,27%, dengan penerima manfaat akhir antara lain Susanto Kusumo, Alexander Halim Kusuma, Richard Halim Kusuma, dan Hindarto Budiono.
Tiga kali buyback dalam satu tahun. Total Rp750 miliar. Klaim bahwa fundamental perseroan masih solid. Kini tinggal pasar yang memutuskan apakah sinyal itu cukup meyakinkan.