SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Sucor Sekuritas Kantongi Dua Pipeline IPO Teknolog...

Finansial

Sucor Sekuritas Kantongi Dua Pipeline IPO Teknologi dan Media untuk 2026

Di tengah maraknya IPO sektor kesehatan di awal semester II, Sucor Sekuritas diam-diam sudah mengantungi dua calon emiten dari sektor teknologi dan media, meski mengakui tantangannya tidak ringan di era suku bunga tinggi ini.

Setelah Bawa IPO, Sucor Sekuritas Mengantongi Mandat IPO Perusahaan Media dan Teknologi di 2026 - SWA.co.id

Dua IPO selesai dalam dua hari, dua lagi sudah antre. PT Sucor Sekuritas rupanya tidak berencana memperlambat laju penjaminannya di 2026, bahkan ketika pasar masih dibayangi tekanan suku bunga yang belum reda.

Selasa pagi (7/7), Sucor baru saja mengawal debut saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) di lantai Bursa Efek Indonesia. Saham produsen jeli itu langsung nangkring di posisi auto rejection atas (ARA) sejak sesi pertama, menempel di Rp1.125 dari harga penawaran Rp900 per saham. Dari IPO ini, JELI berhasil meraup Rp239,4 miliar, belum dipotong biaya emisi. Kelebihan permintaan mencapai 273,37 kali selama masa penawaran. Bukan angka yang bisa diabaikan.

Dua hari berselang, giliran PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang dijadwalkan melantai pada 9 Juli 2026, dengan Sucor kembali sebagai penjamin pelaksana emisi. Antrean beli PRDL sudah menembus 1,2 juta pesanan dengan tingkat oversubscription yang disebut luar biasa. Bernardus Wijaya, CEO Sucor Sekuritas, mengaitkan tren ini dengan perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih sadar soal kesehatan. "Masyarakat saat ini lebih concern tentang kesehatannya, makanya sektor healthcare ini menarik banyak minat investor," ujarnya saat ditemui di Main Hall BEI.

Tapi yang menarik justru apa yang ada di balik layar. Bernardus mengonfirmasi bahwa Sucor kini mengantongi dua calon emiten di pipeline untuk paruh kedua 2026, keduanya dari sektor teknologi dan media. Soal identitas keduanya, ia belum mau buka kartu. "Tapi nanti saya belum bisa reveal," katanya singkat. Apakah keduanya akan melantai di semester II tahun ini atau menunggu semester I 2027 masih dalam pertimbangan. Target kapitalisasi pasar minimal Rp200 miliar, meski potensinya bisa menembus Rp1 triliun.

Paradoks, sebenarnya. Bernardus sendiri yang mengakui sektor teknologi sebagai yang paling challenging di lanskap IPO saat ini. Di era suku bunga tinggi, investor cenderung risk-off dan lebih memilih sektor yang memberikan kepastian imbal hasil, seperti consumer goods. Teknologi, dengan struktur valuasi yang sering bertumpu pada proyeksi pertumbuhan jangka panjang, kurang seksi ketika yield obligasi pemerintah sudah meroket dan deposito kembali kompetitif.

Sucor bukan tanpa preseden di sini. Desember 2025, mereka turut mengawal IPO PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) bersama tiga sekuritas besar lain. Superbank kala itu mencatatkan lebih dari satu juta pesanan dengan oversubscription di atas 300 kali. Pengalaman itu, bisa jadi, yang membuat mereka tidak gentar menerima mandat di sektor yang sedang tidak populer.

Dari sisi makro, IPO sebagai instrumen pendanaan memang sedang diuntungkan situasi. Ketika yield obligasi pemerintah melonjak, kupon obligasi korporasi ikut terkerek, membuat cost of fund jalur utang jadi mahal. Berbeda dengan obligasi yang menanggung beban bunga periodik dan kewajiban pelunasan pokok, dana hasil IPO berbasis ekuitas tidak membebani arus kas perusahaan dengan cara yang sama, sehingga secara komparatif terasa lebih ringan bagi emiten yang butuh modal kerja jangka panjang. Bernardus menyebut dinamika ini sebagai berkah tersendiri bagi pasar ekuitas domestik.

Kunci eksekusi IPO yang berhasil, menurut Sucor, terletak pada rasionalitas valuasi dan posisi kompetitif emiten di industrinya. "Kita harus lihat fundamental ya, apakah fundamental itu udah cukup bersaing atau tidak," kata Bernardus. JELI, misalnya, berhasil karena valuasinya bersaing sekaligus memegang posisi pangsa pasar terbesar di segmen produk jeli. Fundamental dulu, baru bicara timing.

Pertanyaannya sekarang: apakah dua calon emiten teknologi dan media di pipeline Sucor sudah memenuhi kriteria itu? Pasar, seperti biasa, yang akan menilai.