SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Strategy Rombak Strategi Modal, Tapi Analis Ragu I...

Finansial

Strategy Rombak Strategi Modal, Tapi Analis Ragu Ini Cukup

Saham MSTR anjlok 45% sepanjang Juni 2026 setelah Strategy menjual bitcoin pertama kalinya dalam 41 bulan. Paket kebijakan baru berhasil memulihkan kepercayaan sesaat, tapi struktur utang $6,7 miliar tetap membayangi.

Strategy mampu redam panik pasar, analis menilai hanya buying time?

Saham PT Strategy Inc. (MSTR) sempat menjadi tontonan pahit sepanjang Juni 2026: minus 45,4% dalam satu bulan, jauh lebih dalam ketimbang koreksi bitcoin yang "hanya" 18,4% di periode yang sama. Dari titik panik itulah perusahaan besutan Michael Saylor bergerak, merombak total cara mereka mengelola modal.

Pemicunya cukup jelas. Pada 26 Juni 2026, saham preferen unggulan Strategy, STRC, ambles ke US$71,25, padahal instrumen itu dirancang diperdagangkan mendekati nilai nominal US$100. Bukan sekadar angka. Ini sinyal bahwa pasar mulai mempertanyakan kemampuan Strategy membayar dividen sekaligus terus menumpuk bitcoin tanpa menjual aset atau menerbitkan saham baru secara masif.

Sebelumnya, akhir Mei 2026, perusahaan sudah lebih dulu melukai sentimen investor. Strategy menjual 32 BTC, jumlah yang mungkin terdengar sepele dibanding total kepemilikan 843.706 BTC per 31 Mei. Tapi ini yang pertama kali terjadi dalam 41 bulan, sejak Desember 2022. Pasar langsung membacanya sebagai tanda bahwa Strategy bisa jadi forced seller, dan spekulasi pun liar: pelaku short bisa sengaja menekan harga bitcoin agar perusahaan dipaksa jual lebih banyak.

Respons manajemen datang menjelang akhir Juni. Strategy menaikkan dividen tahunan STRC dari 11,5% menjadi 12%, menetapkan kebijakan cadangan kas baru senilai sekitar US$3,8 miliar, meluncurkan program buyback saham preferen hingga US$1 miliar, dan menyetujui buyback saham biasa dengan nilai yang sama. Yang paling mengejutkan: untuk pertama kalinya Strategy secara resmi memperkenalkan program monetisasi bitcoin, membuka pintu bagi perusahaan untuk menjual sebagian kepemilikan kripto jika kondisi keuangan membutuhkan.

Pasar merespons. MSTR melonjak sekitar 18% dalam sepekan ke kisaran US$100, sementara STRC menguat 17% ke sekitar US$87. Pemulihan yang lumayan, kalau kamu lupa betapa dalamnya lubang yang baru saja mereka gali sendiri.

Sayangnya, angka itu tidak meyakinkan semua orang. Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn, mengakui paket kebijakan baru memberi ruang gerak lebih luas ketika harga bitcoin melemah, tapi ia menegaskan struktur permodalan perusahaan menghadapi risiko yang sama persis seperti sebelumnya. Strategy masih menanggung kewajiban dividen berkala kepada pemegang saham preferen, ditambah utang obligasi konversi sekitar US$6,7 miliar yang jatuh tempo pada 2027 dan 2028. Bukan angka yang nyaman.

Chief Investment Officer Arca, Jeff Dorman, lebih blunt. Langkah Strategy paling jauh hanya menunda masalah satu hingga dua tahun. Kalau harga bitcoin tidak naik cukup tajam, tekanan akan kembali. Model bisnis yang mengandalkan tiga poros, yaitu harga bitcoin yang terus naik, akses pendanaan murah, dan kemampuan menerbitkan instrumen keuangan baru, tetap rapuh jika salah satunya goyah.

Ada satu pergeseran yang agaknya lebih fundamental dari sekadar soal likuiditas Strategy. Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, memperkirakan peran Strategy sebagai pembeli utama bitcoin akan semakin menyusut di siklus berikutnya. Bukan karena mereka akan jual besar-besaran, melainkan karena keterbatasan model penerbitan instrumen keuangan mereka sudah terlihat. Sumber permintaan bitcoin fase berikutnya, kata Hougan, akan datang dari investor institusi yang lebih beragam: bank, dana pensiun, endowment, sovereign wealth fund, hingga penasihat keuangan independen. Arus modal yang lebih luas, lebih stabil, tidak tergantung pada agresivitas satu perusahaan publik.

Per 31 Maret 2026, Strategy tercatat memiliki sekitar US$17 miliar utang dan saham preferen perpetual, dengan kepemilikan bitcoin senilai sekitar US$51,6 miliar. Koreksi 28,5% harga bitcoin sepanjang tahun berjalan sudah cukup untuk menggoyahkan neraca yang dibangun di atas utang setinggi itu. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?

Beberapa analis bahkan mulai menyarankan Strategy mengeksplorasi pendapatan dari kepemilikan bitcoin itu sendiri, misalnya dengan meminjamkan sebagian aset secara konservatif atau memanfaatkan strategi derivatif. Opsi yang selama ini diabaikan Saylor karena dianggap melenceng dari filosofi "hanya beli dan tahan".

Pertanyaan sesungguhnya bukan apakah Strategy akan bertahan. Melainkan apakah era di mana satu perusahaan bisa menggerakkan sentimen pasar bitcoin seorang diri memang sudah benar-benar berakhir.