SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  SMGR Diborong Asing Rp 45 Miliar, PBV 0,24 Kali Ja...

Finansial

SMGR Diborong Asing Rp 45 Miliar, PBV 0,24 Kali Jadi Magnet

Tiga pekan berturut-turut investor asing mengakumulasi saham Semen Indonesia dengan total net buy Rp 45,86 miliar, meski secara year-to-date saham ini masih amblas sekitar 40%.

Investor Asing Borong Saham SMGR Rp 45 Miliar

Tiga pekan berturut-turut, investor asing tidak berhenti mencicil saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Total belanjaannya sudah menyentuh Rp 45,86 miliar sejak 27 Juli hingga 14 Agustus 2026.

Rinciannya: net buy Rp 12,41 miliar pada pekan terakhir Juli, melonjak ke Rp 20,83 miliar di pekan pertama Agustus, lalu Rp 12,62 miliar di pekan kedua Agustus. Konsisten, tanpa jeda. Pola seperti ini biasanya bukan kebetulan.

Pada penutupan Jumat (14/8), SMGR terkerek 4,64% ke Rp 1.580 per saham. Volume perdagangan tercatat 22,51 juta lembar dengan frekuensi 4.278 kali dan nilai transaksi Rp 35,11 miliar dalam sehari. Lumayan deras, untuk saham yang ytd-nya masih amblas sekitar 40%.

Di sinilah ceritanya mulai menggigit. PBV SMGR hanya 0,24 kali, artinya harga pasar saat ini cuma seperempat dari nilai bukunya. Bagi investor value, angka seperti ini agaknya susah diabaikan, terutama untuk emiten BUMN dengan omzet Rp 35 triliun lebih. Jebakan value trap, atau diskon yang terlalu dalam? Pertanyaan itu yang kini berputar di kepala pelaku pasar.

Tahun 2025 memang berat buat SMGR. Pendapatan tergerus dari Rp 36,18 triliun menjadi Rp 35,24 triliun, dan laba bersih dihajar lebih dalam lagi: dari Rp 719,76 miliar ke Rp 190,84 miliar. Hampir tiga perempat laba lenyap dalam setahun. PER annualized yang kini di 33,19 kali pun terasa mahal kalau konteksnya profitabilitas yang sedang tercekik.

Kuartal I-2026 memberikan sedikit napas. Pendapatan tumbuh ke Rp 8,28 triliun dari Rp 7,65 triliun di periode yang sama tahun lalu, dan laba bersih hampir dua kali lipat: Rp 80,34 miliar versus Rp 42,58 miliar. Bukan pembalikan dramatis, tapi setidaknya arahnya berubah. Laporan semester I-2026 sendiri masih dalam proses penelaahan terbatas, jadi pasar belum punya gambaran penuh soal apakah tren ini berlanjut.

Yang asing lihat, bisa jadi, adalah kombinasi antara valuasi yang sudah kelewat murah dan sinyal pembalikan di kinerja operasional. Beli di saat semua orang kapok, lalu tunggu katalis berikutnya. Strategi klasik, entah kebetulan atau tidak, yang tidak selalu salah.

Apakah ritel lokal akan ikut-ikutan? Atau justru ini momentum keluar bagi yang sudah nyangkut sejak harga tinggi? Data net buy asing tiga pekan berikutnya mungkin akan menjawab lebih banyak dari laporan keuangan manapun.