Kupon 6,85% untuk tenor empat tahun dan 6,75% untuk tenor dua tahun. Itulah angka yang dipasang pemerintah untuk SBR015, seri Savings Bond Ritel terbaru yang mulai ditawarkan 28 September hingga 22 Oktober 2026. Bukan sekadar angka pemanis. Ini yang tertinggi sejak SBR009 diterbitkan pada 2020.
Sebagai pembanding: SBR014 yang terbit sebelumnya hanya menawarkan 6,25% untuk tenor dua tahun dan 6,35% untuk tenor empat tahun. Kenaikan SBR015 dibanding seri itu mencapai 50 basis poin (bps) untuk kedua tenor. Lompatan yang tidak kecil, terutama bagi investor yang selama ini setia parkir di instrumen ini.
Ada konteks pasar yang perlu dibaca di balik angka-angka itu. IHSG turun 3,1% sepanjang pekan lalu, ditutup di 6.241,89 pada Jumat (25/9). Yield SBN tenor 10 tahun naik 7,5 bps ke 7,083%. Sebagian besar tekanan datang dari yield US Treasury 10 tahun yang dalam sebulan melonjak 49,5 bps ke level 5,167%. Selisih yield SBN-UST yang menyempit ke sekitar 192 bps membuat SBN kurang menarik di mata investor asing, sehingga pemerintah perlu mendorong basis investor domestik tetap kuat lewat instrumen ritel dengan daya tarik lebih tinggi.
Rp20 triliun. Target penjualan SBR015 yang dipatok Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto, dan angka itu, menurutnya, realistis. "Target tersebut kami pandang realistis dengan mempertimbangkan tren positif minat masyarakat terhadap SBN Ritel sepanjang tahun ini serta potensi reinvestment dari investor SBN Ritel ORI024T3 yang akan jatuh tempo pada masa penawaran SBR015," kata Suminto kepada Kompas.com, Senin (28/9/2026). Sebagai gambaran skala, penerbitan SBN Ritel sepanjang 2026 hingga Agustus sudah mengantongi Rp124,32 triliun dari enam seri.
Soal mekanisme kupon, SBR015 memakai skema floating with floor: kupon mengambang dengan batas minimum. Ditinjau setiap tiga bulan berdasarkan BI Rate ditambah spread tetap, yakni 100 bps untuk SBR015T2 dan 110 bps untuk SBR015T4. Dengan BI Rate saat ini di 5,75%, formula ini menghasilkan kupon awal 6,75% dan 6,85%. Kalau BI Rate kembali naik ke 6%, kupon SBR015T2 berpotensi menyentuh 7% dan SBR015T4 menembus 7,1%. Sebaliknya, kalau BI Rate turun, investor tetap terlindungi oleh floor. Relevan sekali, jujur saja, di saat arah suku bunga masih belum sepenuhnya bisa diprediksi.
Satu poin yang kerap luput dari perhatian investor ritel: pajak. Kupon SBN dikenai PPh Final hanya 10%, jauh lebih rendah dibanding deposito yang kena 20%. Penurunan tarif ini buah dari PP 9/2021 yang memotong PPh Final SBN dari 15% menjadi 10%. Setelah pajak, imbal hasil bersih SBR015T2 ada di kisaran 6,08% per tahun dan SBR015T4 sekitar 6,17%. Bandingkan dengan deposito bank umum yang bunga brutonya kini rata-rata sekitar 3,75%; setelah pajak 20%, yang tersisa hanya sekitar 3% per tahun. Dua kali lipat bedanya. Lebih.
Beberapa hal teknis perlu dicermati sebelum masuk. SBR015 tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder, dan pencairan sebelum jatuh tempo hanya dimungkinkan lewat fasilitas early redemption sesuai ketentuan. Bukan instrumen untuk dana darurat, ini harus jelas. Investasi minimal Rp1 juta, batas maksimum Rp5 miliar untuk SBR015T2 dan Rp10 miliar untuk SBR015T4. Pembelian tersedia secara online melalui 18 bank umum, 7 perusahaan efek, dan 4 platform fintech sebagai mitra distribusi resmi.
Pertanyaannya, kenapa timing ini menarik? Pasar saham sedang dihajar tekanan eksternal, pilihan fixed income lain belum tentu lebih kompetitif secara risk-adjusted, dan SBR015 hadir dengan perlindungan batas bawah sekaligus potensi kenaikan kupon. Bagi investor yang sudah nyaman dengan volatilitas nol dan menginginkan arus kas bulanan yang kepastiannya dijamin undang-undang, proposisi ini sulit diabaikan.