SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  China Buka Pintu untuk Chip Nvidia, ByteDance dan...

Bisnis

China Buka Pintu untuk Chip Nvidia, ByteDance dan Alibaba di Baris Terdepan

Beijing kabarnya meminta ByteDance dan Alibaba melaporkan rencana pengadaan chip Nvidia RTX PRO 5500, sinyal kuat pelonggaran setelah dua tahun China dorong kemandirian teknologi.

Tanda China Mulai Melunak, Buka Pintu Lebar-Lebar Buat Amerika

Setelah dua tahun mendorong perusahaan teknologi lokal memutus ketergantungan dari Silicon Valley, Beijing mulai menghitung ulang kalkulasinya. Pemerintah China dikabarkan tengah mempertimbangkan izin pembelian chip Nvidia RTX PRO 5500 bagi sejumlah korporasi domestik, dengan ByteDance dan Alibaba disebut masuk dalam daftar pertama.

Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) dilaporkan telah meminta kedua perusahaan itu menyerahkan laporan rencana pengadaan, termasuk jumlah unit yang dibutuhkan dan peruntukannya. Menurut sumber yang dekat dengan situasi tersebut sebagaimana dilaporkan The Information, permintaan itu disertai bisikan bahwa pemerintah condong menyetujui transaksi ini. Reuters belum berhasil memverifikasi laporan tersebut secara independen.

RTX PRO 5500 bukan sembarang chip. Diperkenalkan Nvidia pada September 2026 dengan arsitektur Blackwell, produk ini dirancang untuk workstation profesional kelas atas, bukan untuk data center skala raksasa yang selama ini jadi target utama pembatasan ekspor Washington. Sejumlah eksekutif industri sudah lama memperkirakan spesifikasi teknis RTX PRO 5500 bisa membuatnya "terhindar" dari jeratan aturan kontrol ekspor AS, kendati belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang AS.

Sinyal ini muncul justru ketika Alibaba baru saja memperkenalkan chip AI buatannya sendiri, Zhenwu V900, lewat unit semikonduktor T-Head. Alibaba mengklaim chip tersebut menawarkan performa tiga kali lipat dibanding pendahulunya, ditujukan untuk melatih model AI berukuran besar. Bisa jadi kehadiran Zhenwu V900 justru memberi ruang negosiasi lebih luas, karena China kini tidak sepenuhnya tanpa pilihan.

Nvidia sendiri enggan terlalu optimistis. Juru bicara perusahaan menegaskan bahwa korporasi asal AS itu saat ini terjepit dari dua arah: regulasi ekspor AS yang dinilai ketinggalan zaman, yang bahkan mencakup produk gaming yang dirilis hampir setengah dekade lalu, dan pembatasan impor yang diberlakukan China sendiri. "Perusahaan-perusahaan AS terus dibatasi oleh kombinasi kontrol ekspor AS yang sudah ketinggalan zaman dan pembatasan China sendiri terhadap impor dari AS," ujar juru bicara Nvidia kepada Reuters.

Belum ada angka pasti. Belum ada keputusan resmi, belum ada kuota yang diumumkan, dan ByteDance maupun Alibaba belum bersuara. Pasar, seperti biasanya, tidak menunggu.

Pelonggaran dari sisi China pun tidak otomatis membuka kran penjualan Nvidia secara luas. Selama Washington belum merevisi daftar pembatasan ekspor chip AI ke China, setiap transaksi tetap harus melewati labirin regulasi yang sama. Perkembangan ini muncul pas ketika gencatan dagang Washington-Beijing masih berdiri di atas fondasi yang rapuh, agaknya bukan kebetulan semata. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa jauh kedua pihak mau saling memberi ruang?