SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  SBR015 vs Deposito: Selisih Hasil Bersihnya Bisa L...

Finansial

SBR015 vs Deposito: Selisih Hasil Bersihnya Bisa Lebih dari Dua Kali Lipat

Pemerintah membuka penawaran SBR015 mulai 28 September hingga 22 Oktober 2026. Dengan pajak kupon hanya 10% dan kupon minimal 6,75%, hasil bersihnya jauh meninggalkan deposito bank yang kena pajak 20%.

SBR015 vs Deposito: Hasil Bersihnya Lebih dari 2 Kali Lipat, Cek Simulasinya

Masa penawaran Savings Bond Ritel seri SBR015 resmi dibuka 28 September 2026 dan berlangsung hingga 22 Oktober 2026. Dua seri tersedia: SBR015T2 dengan tenor dua tahun dan kupon minimal 6,75% per tahun, serta SBR015T4 bertenor empat tahun dengan kupon minimal 6,85% per tahun.

Salah satu keunggulan fiskal yang jarang dibahas serius adalah perlakuan pajaknya. Kupon SBR015 dikenakan PPh final 10%, separuh dari pajak bunga deposito yang mencapai 20%. Perbedaan ini bukan detail kecil, efeknya langsung terasa di angka bersih yang masuk kantong investor. Bukan main.

Simulasi memperlihatkan selisihnya cukup dramatis. Dengan asumsi bunga deposito 3,75% per tahun, setara tingkat bunga penjaminan LPS untuk bank umum yang berlaku hingga 30 September 2026, dana Rp100 juta menghasilkan bunga bersih sekitar Rp250.000 per bulan setelah dipotong pajak 20%. Di SBR015T2, kupon bersih setelah pajak 10% mencapai sekitar Rp506.250 per bulan, atau lebih dari dua kali lipat. Untuk SBR015T4, angkanya sedikit lebih tinggi, sekitar Rp513.720 per bulan.

Secara tahunan, hasil bersih SBR015T2 sekitar 6,075% dan SBR015T4 sekitar 6,165%, dibanding deposito yang hanya menghasilkan 3% setelah pajak. Rasio perbandingannya konsisten di kisaran 2,03 hingga 2,05 kali untuk rentang nominal investasi Rp1 juta sampai Rp5 miliar.

Pertanyaannya, berapa bunga deposito yang dibutuhkan untuk menyamai hasil itu? Untuk menandingi SBR015T2, deposito perlu menawarkan bunga sekitar 7,6% per tahun sebelum pajak. Untuk SBR015T4, butuh sekitar 7,7%. Angka setinggi itu sudah melampaui tingkat bunga penjaminan LPS, yang berarti simpanan tersebut tidak lagi dijamin. Bunga lebih tinggi, tapi jaminannya hilang. Pilihan yang tidak semudah kelihatannya.

Soal jaminan, keduanya punya payung hukum yang berbeda. Deposito dijamin LPS hingga Rp2 miliar per nasabah per bank, dengan syarat bunga tidak melebihi batas penjaminan. Kupon dan pokok SBR015 dijamin negara berdasarkan Undang-Undang Surat Utang Negara, dengan dana yang dialokasikan dalam APBN setiap tahunnya, serta kuota pembelian maksimal Rp15 miliar per investor.

Kupon SBR015 bersifat mengambang, disesuaikan setiap tiga bulan mengikuti BI Rate ditambah spread tetap, namun tidak akan turun di bawah batas bawahnya. Kalau suku bunga acuan turun, hasil deposito bisa ikut tergerus saat diperpanjang, sedangkan kupon SBR015 tertahan di floor-nya. Sebaliknya, bila BI Rate naik, kupon SBR015 ikut terangkat dan angka simulasi di atas sudah menjadi skenario paling konservatif.

Satu hal yang agaknya sering luput adalah soal likuiditas. Deposito bisa dicairkan saat jatuh tempo bulanan atau lebih awal dengan penalti sesuai aturan bank masing-masing. SBR015 tidak bisa dijual ke pihak lain. Pencairan sebelum jatuh tempo hanya mungkin lewat fitur early redemption, maksimal 50% dari setiap transaksi pembelian, dan hanya pada jadwal tertentu yang sudah ditetapkan: 27 Oktober hingga 4 November 2027 untuk T2, dan 30 Oktober hingga 6 November 2028 untuk T4.

Bagi yang sudah memutuskan masuk, pembelian dilakukan secara daring melalui mitra distribusi resmi. Minimal pembelian Rp1 juta dengan kelipatan yang sama, dan hanya untuk warga negara Indonesia yang memiliki KTP. Prosesnya mencakup registrasi SID, konfirmasi pesanan, lalu pembayaran lewat kode billing yang wajib diselesaikan maksimal tiga jam. Transaksi dinyatakan final setelah investor menerima NTPN, dan tidak bisa dibatalkan.

Angka-angka di atas cukup bicara sendiri. Buat investor yang tidak butuh likuiditas tinggi dalam dua hingga empat tahun, selisih hasil bersih lebih dari dua kali lipat dibanding deposito bukan sesuatu yang gampang diabaikan.