Kuartal pertama 2026 jadi tamparan keras buat PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Pendapatan perusahaan hanya tercatat Rp 640,5 miliar, ambles 18,8% dibanding periode yang sama tahun lalu dan jeblok 52,6% secara kuartalan, angka yang memaksa analis merevisi ulang seluruh model proyeksinya.
Laba bersih ikut terseret. Tercatat Rp 147,2 miliar, terpangkas 36,8% yoy dan ambrol 64,2% qoq. Realisasi ini hanya menyentuh 11,4% dari estimasi MNC Sekuritas dan 11,6% dari konsensus pasar untuk keseluruhan 2026. Bukan sekadar miss. Meleset cukup jauh.
Analis MNC Sekuritas Catherine Florencia M akhirnya menurunkan rekomendasi SIDO dari buy menjadi hold, dengan target harga baru Rp 520 per saham. Target ini mencerminkan valuasi PE 2026 sebesar 14 kali dan PE 2027 di angka 13,3 kali, dengan PBV 2026 di level 4,5 kali. Proyeksi pendapatan 2026 dipangkas 6,6% menjadi Rp 4 triliun, sementara estimasi laba bersih dikorting 13,9% menjadi Rp 1,1 triliun.
Tekanan datang dari beberapa arah sekaligus: daya beli yang masih lesu, pemulihan sell-in domestik yang lebih lambat dari perkiraan, nihilnya kenaikan ASP, serta biaya transportasi dan kemasan plastik yang belum mereda. Kombinasi faktor itulah yang membuat Catherine memilih wait and see.
Manajemen SIDO punya versi lain. Direktur Utama Irwan Hidayat menegaskan bahwa penurunan pendapatan bukan cerminan melemahnya permintaan konsumen akhir. "Jadi, penurunan bukan karena permintaan turun, melainkan kami melakukan inventory adjustment. Permintaan pasar di tingkat ritel tetap stabil, bahkan meningkat di sejumlah wilayah," kata Irwan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (12/5/2026).
Duduk perkaranya begini. Pada akhir 2025, para distributor agresif membeli stok dengan harga lama, memanfaatkan insentif sebelum kenaikan harga berlaku. Gudang distributor pun kelebihan stok, dan mereka menjual di bawah harga resmi ke pasar. "Mereka beli dengan harga lama, kemudian dijual murah di pasar. Padahal, harga resmi sudah naik, tapi mereka masih jual di bawah harga. Ini merusak pasar," kata Irwan. Untuk mengoreksi distorsi itu, SIDO sengaja membatasi pengiriman ke distributor sepanjang kuartal I.
Data lapangan agaknya mendukung sebagian klaim tersebut. Penjualan ke konsumen akhir tercatat sekitar 20% lebih tinggi ketimbang sell-in ke distributor, dan kinerja April 2026 sudah memperlihatkan tanda pemulihan. Di segmen ekspor, performanya justru moncer: kontribusi pasar internasional naik ke 14% dari total pendapatan, dengan ekspor inti tumbuh 45% yoy.
Posisi pasar domestik pun belum goyah. Tolak Angin masih menggenggam 72% pangsa pasar obat herbal masuk angin berdasarkan data Nielsen. Kuku Bima menguasai 51% pasar minuman energi. Esemag, Tolak Linu, dan suplemen herbal juga bertahan sebagai pemimpin di kategori masing-masing.
Menjelang HUT ke-75 perusahaan pada November 2026, SIDO menyiapkan enam langkah strategis. Di antaranya meluncurkan platform edukasi SidoHerbalPedia, memperluas riset tanaman obat untuk penyakit seperti kanker dan diabetes, serta ekspansi ekspor ke Arab Saudi dan China dengan masuk ke pasar mainstream, bukan sekadar toko-toko diaspora. "Kami akan mendaftarkan produk di Arab Saudi untuk masuk pasar mainstream. Kalau bisa, kami juga akan masuk ke China," ujar Irwan.
Soal risiko bahan baku, eksposurnya terbatas. Sekitar 90% bahan baku SIDO berasal dari dalam negeri, sehingga gejolak kurs dolar tidak terlalu menggigit strukturnya.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah pemulihan kuartal II benar-benar akan datang secepat yang manajemen janjikan, atau klaim itu masih perlu dibuktikan lewat angka? Kalau normalisasi distributor berjalan sesuai rencana dan ekspor terus tumbuh, downgrade ini bisa jadi entry point menarik. Kalau tidak, Rp 520 pun belum tentu jadi lantai.