RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Gelombang Akuisisi September: Haji Isam, Siloam, h...

Bisnis

Gelombang Akuisisi September: Haji Isam, Siloam, hingga FORU Bergerak

Setidaknya enam aksi akuisisi emiten tengah berjalan bersamaan di September 2026, dengan transaksi terbesar melibatkan Jhonlin Group yang membidik 30% saham BYAN senilai estimasi 1,45 miliar dolar AS.

Ramai-Ramai Akuisisi Emiten di September, Haji Isam yang Terbesar?

September 2026 jadi bulan yang sibuk di lantai bursa, bukan karena pergerakan harga, tapi karena meja negosiasi yang tidak pernah sepi. Setidaknya enam transaksi akuisisi emiten tengah berjalan bersamaan, mencakup sektor batu bara, rumah sakit, energi, hingga layanan internet, dengan nilai kumulatif yang bisa menembus angka puluhan triliun rupiah jika seluruhnya terealisasi.

Yang paling banyak diperbincangkan tentu langkah PT Jhonlin Baratama, bagian dari Jhonlin Group milik pengusaha Kalimantan Haji Isam, yang menandatangani perjanjian jual beli bersyarat pada 16 September 2026 untuk mengambil sekitar 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari tangan Low Tuck Kwong dan Elaine Low. Jumlah saham yang berpindah tangan mencapai 10.000.000.500 lembar, tapi harga resminya belum diumumkan. Belum sepeser pun.

Satu-satunya angka yang beredar berasal dari laporan yang belum terkonfirmasi, menyebut nilai 3 miliar dolar AS untuk kepemilikan 62,2%. Kalau angka itu dijadikan acuan proporsional untuk porsi 30%, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan nilai transaksi sekitar 1,45 miliar dolar AS, setara harga per saham Rp2.530-Rp2.590. Angka yang, entah kebetulan atau tidak, jauh di bawah harga rata-rata 90 hari BYAN yang ada di kisaran Rp12.643 per saham. BYAN sendiri menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran dengan nilai tersebut, dan harga aktual transaksi masih menjadi tanda tanya besar.

Konteks regulasi membuat transaksi ini makin menarik dicermati. Kementerian ESDM menyetujui revisi rencana kerja tiga anak usaha BYAN pada 23 September 2026, menambah sekitar 15 juta-20 juta ton kuota produksi. Sehari setelahnya, status force majeure perusahaan dicabut. Kementerian memastikan persetujuan itu tidak berkaitan dengan perubahan kepemilikan saham, tapi timing-nya tetap saja bikin pelaku pasar berpikir dua kali. Setelah transaksi rampung, Low Tuck Kwong diperkirakan masih memegang sekitar 20,85% saham BYAN bersama Elaine Low sekitar 11,40%, sehingga keduanya tetap menjadi pengendali. Tidak ada mandatory tender offer, tidak ada perubahan direksi.

Latar belakang regulasi ini krusial. RKAB batu bara 2026 ditetapkan sekitar 580 juta ton, turun dari realisasi produksi sekitar 790 juta ton di 2025. Pengetatan kuota membuat kepastian RKAB makin mahal harganya, dan aset tambang yang sudah beroperasi nilainya melonjak secara strategis. Dari transaksi-transaksi September ini, setidaknya tiga jalur masuk terbaca: akuisisi saham minoritas, konsolidasi lewat platform, dan penyertaan aset ke emiten.

Jalur ketiga itulah yang dipilih PT Fortune Indonesia Tbk (FORU). Perusahaan ini memproses akuisisi 49% saham PT Borneo Prima melalui skema rights issue senilai Rp27,1 triliun dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte. Ltd., menyetorkan saham Borneo Prima sebagai inbreng senilai sekitar Rp20,82 triliun, sementara sisa dana tunai dari rights issue disalurkan sebagai pinjaman ke Borneo Prima untuk modal kerja. FORU sudah masuk periode perdagangan HMETD di akhir September. Pada harga ex-rights pertama Rp176, valuasi pasca-aksi korporasi mencapai sekitar Rp37,9 triliun, atau sekitar 1,8 kali nilai kontribusi yang dinyatakan atas kepemilikan 49% di Borneo Prima. Angka yang patut dicermati investor sebelum masuk.

Di sektor kesehatan, dua emiten bergerak hampir bersamaan. Siloam International Hospitals (SILO) merealisasikan rencana akuisisi 14 perusahaan pemilik aset rumah sakit dari entitas anak First REIT, dibagi dua tahap: delapan perusahaan di tahap pertama senilai sekitar Rp5,12 triliun, dan enam perusahaan di tahap kedua senilai sekitar Rp3,88 triliun. Per 24 September 2026, SILO sudah menuntaskan pengambilalihan lima perusahaan target tahap pertama senilai sekitar Rp3,47 triliun, mencakup properti rumah sakit Siloam di Palembang, Purwakarta, Bali, Lippo Village, dan Kebon Jeruk. Masih ada sembilan perusahaan lagi yang antre.

PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) mengambil langkah lebih agresif secara strategis: berbelok dari distribusi bahan baku percetakan digital ke layanan kesehatan jantung. Targetnya adalah 72,91% saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon (HMBC) senilai Rp286 miliar, lewat kombinasi pembelian saham baru dan saham lama.

Dua transaksi lain melengkapi bulan ini. PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) mengincar 75% saham PT Aztech Pandu Persada di sektor migas. Nilainya? Masih indikatif, menunggu due diligence selesai dalam enam bulan. PT Winner Nusantara Jaya Tbk (WINR) menaikkan target kepemilikan di PT Laxo Global Akses dari 60% menjadi 90%, mengincar lebih dari 10.000 pelanggan ritel internet yang akan diintegrasikan dengan proyek properti WINR. Direktur Utama WINR Liu Yut Men menyebut integrasi itu memungkinkan perseroan menawarkan paket bundling layanan konektivitas pintar di proyek-proyek propertinya.

Semua transaksi ini masih bersyarat. Menunggu RUPSLB, persetujuan ESDM, atau uji tuntas yang belum kelar. Bagi investor yang sedang memetakan sektor batu bara, pilihan bermain sudah tersedia: PTBA, ITMG, dan AADI masih menawarkan visibilitas kuota yang lebih solid dengan valuasi 7-8,4 kali earnings. BYAN, SINI, dan FORU menawarkan cerita berbeda, dengan potensi lebih besar dan ketidakpastian yang tidak kalah besar pula. Pertanyaannya: apakah risikonya sepadan?