Dua puluh juta barel minyak melintas setiap hari melalui Selat Hormuz, jalur laut selebar 54 kilometer yang memisahkan Iran dari Semenanjung Arab. Ketika Teheran menutup selat itu pada akhir Februari 2026, pasar energi global tidak butuh waktu lama untuk bereaksi: harga minyak mentah meledak dari US$71 menjadi lebih dari US$94 per barel hanya dalam beberapa hari. Lonjakan sekitar 32% yang membuat banyak pelaku pasar terdiam.
Bagi Indonesia, angka itu bukan abstraksi. Sebagai importir sekitar satu juta barel per hari, setiap kenaikan harga minyak langsung menghantam subsidi BBM, menekan inflasi, dan membebani APBN yang ruang fiskalnya sudah tidak longgar. Kurs rupiah pun ikut terseret, pasar selalu membaca gejolak energi sebagai sinyal bahwa current account deficit akan melebar. Selalu. Tanpa kecuali.
Tapi ada dinamika yang jauh lebih dalam dari sekadar chart harga minyak yang meroket.
Mahendra Siregar, yang punya rekam jejak panjang di lintas jabatan strategis Indonesia, dari Wakil Menteri Keuangan, Wakil Menteri Luar Negeri, Duta Besar RI untuk AS, hingga Ketua OJK, menyampaikan pembacaan yang agaknya mengejutkan bagi banyak orang: dalam konflik ini, Iran keluar sebagai pihak yang lebih diuntungkan dibanding Amerika Serikat.
Bukan klaim ringan. Tapi argumennya masuk akal.
Iran, kata Mahendra, tidak pernah berpura-pura bisa menang dalam konfrontasi senjata langsung melawan AS dan Israel. Selama puluhan tahun, Teheran justru membangun strategi yang berbeda: mengembangkan misil balistik presisi tinggi dan teknologi drone yang murah, sederhana, namun efektif memukul balik serangan. Bukan meniru strategi negara lain, melainkan merancang pendekatan pertahanan yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan spesifik mereka sendiri.
Yang membuat strategi ini bisa bertahan, menurut Mahendra, adalah konsistensi. Lebih dari 50 tahun di bawah rezim yang sama, dengan angkatan bersenjata yang tidak berganti arah tiap lima tahun sekali, Iran mampu menjalankan strategi jangka panjang secara efektif. Sesuatu yang, kalau dipikir-pikir, sulit ditiru oleh negara-negara yang pemerintahannya silih berganti.
Relevansinya bagi investor Indonesia? Mahendra cukup tegas: pasar keuangan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik. Gejolak di Hormuz bukan sekadar soal harga minyak, efeknya merembet ke nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan akhirnya kinerja portofolio. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali ketegangan di Timur Tengah memuncak, rupiah selalu yang pertama kena getahnya.
Pesan Mahendra untuk investor ritel sebetulnya sederhana: jangan gamang, jangan kaget, dan jangan ikut-ikutan panik. Kemampuan menyeleksi informasi geopolitik, mencernanya dengan kepala dingin, lalu mengambil keputusan berdasarkan analisis, bukan kebisingan, adalah kompetensi yang tidak bisa ditawar di era seperti ini.