Sepanjang September 2026, dua peristiwa terjadi hampir bersamaan di Greenland: Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen mendarat di Nuuk membawa cek senilai 200 juta euro, sementara AS, Denmark, dan pemerintah Greenland meneken kesepakatan pertahanan yang membuka pintu lebih lebar bagi kehadiran militer Amerika di pulau tersebut. Bukan kebetulan. Ini perebutan pengaruh yang sudah lama berproses, dan kini masuk fase yang lebih terbuka.
Paket kemitraan Global Gateway yang dibawa von der Leyen pada 7 September itu mencakup rentang investasi yang cukup luas untuk 2026-2027: konektivitas digital dan satelit, energi, mineral kritis, pendidikan, perikanan, hingga pariwisata berkelanjutan dan perumahan. Komisi Eropa bahkan sudah mengusulkan kenaikan dukungan jangka panjang dari 225 juta euro pada periode 2021-2027 menjadi 530 juta euro untuk kerangka anggaran 2028-2034. Angka yang melompat lebih dari dua kali lipat. Brussel, agaknya, baru benar-benar sadar apa yang selama ini ada di depan mata.
Ilgar Velizade, analis politik Azerbaijan, tidak menyembunyikan nada kritisnya. "Brussel, seperti biasa, baru menyadarinya sangat terlambat. Setelah Trump menyatakan klaimnya, di Eropa barulah orang ingat bahwa ada wilayah bernama Greenland dan bahwa wilayah itu perlu mendapat perhatian. Ini lebih merupakan strategi mengejar ketinggalan. Uni Eropa memiliki banyak krisis dan masalah lain, sehingga Greenland lama tidak menjadi prioritas," ujarnya.
Tapi ada dimensi yang lebih menarik dari sekadar persaingan dompet. Kesepakatan pertahanan September 2026 antara AS, Denmark, dan Greenland memperlihatkan bahwa Washington tidak hanya bicara soal mineral atau jalur pelayaran, tetapi soal proyeksi kekuatan militer. Greenland menguasai jalur Atlantik Utara secara geografis, penghubung kritis antara Amerika Utara dan Eropa dalam kalkulasi NATO. Dari perspektif pertahanan, siapa yang mengendalikan Greenland pada dasarnya mengendalikan salah satu koridor strategis paling vital di belahan bumi utara.
Velizade melihat dinamika ini sebagai tanda bahwa kontradiksi kepentingan antara AS dan sekutu-sekutu Eropa yang selama ini tersimpan rapi mulai menyembul ke permukaan. "Dulu kontradiksi ini tidak begitu jelas, tetapi sekarang Washington menjalankan kebijakan yang lebih langsung, yang mengarah pada benturan kepentingan yang lebih terbuka. Naif jika mengira pergantian pemerintahan dari Partai Republik ke Partai Demokrat akan otomatis menghilangkan kontradiksi ini. Kemungkinan besar kontradiksi itu justru akan beralih ke fase yang lebih laten dan menjadi bahan dialog yang lebih konstruktif, tetapi persaingan itu sendiri tidak akan hilang," katanya.
Di sinilah konteks geografi Greenland menjadi relevan sepenuhnya. Pulau seluas 2.166.086 km persegi ini, yang 80 persennya terkubur di bawah lapisan es setebal hingga tiga kilometer, duduk persis di antara Samudra Arktik dan Atlantik. Mencairnya es akibat perubahan iklim perlahan membuka jalur pelayaran baru yang bisa memangkas jarak antara Atlantik dan Pasifik secara dramatis. Belum lagi cadangan mineral kritisnya yang diyakini sangat besar, jenis material yang kini menjadi rebutan dalam rantai pasok teknologi global.
Satu fakta yang sering luput dari kalkulasi para analis: keputusan soal Greenland tetap ada di tangan orang Greenland sendiri. Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen memang menyambut kemitraan dengan UE, tetapi ia menegaskan keanggotaan kembali di blok tersebut "tidak ada dalam agenda." Greenland keluar dari komunitas Eropa lewat referendum 1982, resmi hengkang pada 1985, dan hingga kini berstatus wilayah seberang laut yang berasosiasi dengan UE melalui kerangka Kerajaan Denmark. Posisi yang memberi Nuuk ruang manuver cukup leluasa, kalau data sejarahnya bisa dipercaya sebagai cermin.
Negara-negara Eropa pun, menurut Velizade, sudah mulai membangun kapasitas pertahanan yang lebih otonom. "Karena itulah negara-negara Eropa sudah bersiap menghadapi konflik kepentingan jangka panjang dengan Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari upaya mengembangkan kemampuan pertahanan sendiri, membentuk angkatan bersenjata Eropa yang lebih otonom dalam kerangka NATO, dan membangun kompleks industri pertahanan yang lebih mandiri dari AS," tegasnya. Bukan reaksi yang muncul semalam. Proses panjang yang dipercepat oleh dinamika seperti yang terjadi di Greenland sekarang.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Greenland akan menjadi arena persaingan kekuatan besar, karena itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah seberapa jauh Nuuk bisa memanfaatkan perhatian semua pihak itu tanpa kehilangan kendali atas nasibnya sendiri.