Senin pagi di Tokyo cukup meriah. Nikkei 225 membuka sesi di level 66.505,94, lalu penguatannya meluas hingga melampaui 500 poin dalam hitungan jam, menempatkan indeks di kisaran pertengahan level 66.000.
Dua katalis yang menggerakkan bursa Tokyo kali ini agaknya sudah bisa ditebak: saham kecerdasan buatan dan semikonduktor, plus aksi buru dividen yang waktunya memang pas. Hari ini hari terakhir penyelesaian akhir bulan, eh, maksudnya, momen di mana investor yang mengincar hak dividen interim kerap masuk agresif. Bak gayung bersambut, momentum teknikal itu bertemu sentimen positif dari Wall Street akhir pekan lalu.
Indeks Semikonduktor Philadelphia naik 1,41 persen pada Jumat malam. Efeknya langsung terasa. Advantest dan SoftBank Group mencatat lonjakan di pasar reguler; Tokyo Electron dan Toyota Motor ikut menguat meski lebih tipis. Tidak semua ikut pesta, Sony Group dan Fast Retailing justru tergerus.
Ibiden turut bergerak positif. Produsen substrat untuk chip AI generasi tinggi ini beroperasi dalam ekosistem yang sama dengan lonjakan permintaan chip global, dan pergerakannya hari ini konsisten dengan tren yang sedang mengangkat seluruh rantai pasok semikonduktor Asia. Bisa jadi ini baru pemanasan.
"Kombinasi sentimen positif dari reli saham AS dan arus masuk yang menargetkan pengambilan dividen berkontribusi pada kenaikan pagi itu," bunyi laporan Trading Economics yang mengutip Reuters.
Angka-angka ini bukan sekadar urusan Tokyo. Reli Nikkei yang ditopang sektor teknologi selalu punya efek psikologis ke bursa-bursa Asia lain, termasuk Jakarta. Emiten teknologi dan semikonduktor di BEI, meski kapitalisasinya jauh lebih kecil dibanding pemain Jepang, biasanya ikut terdampak sentimen regional semacam ini. Pertanyaannya sederhana: apakah IHSG bisa menangkap momentum yang sama? Itu pertanyaan yang layak diletakkan di meja analisis hari ini, kalau data pagi ini bisa dijadikan patokan.