JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Lemah Untungkan Ekspor? Ekonom: Totally Wro...

Ekonomi

Rupiah Lemah Untungkan Ekspor? Ekonom: Totally Wrong

Narasi bahwa pelemahan rupiah baik bagi perekonomian Indonesia terus beredar di media sosial. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebutnya menyesatkan dan berbahaya bagi perencanaan industri manufaktur.

Ekonom Soroti Pemikiran Keliru soal Pelemahan Rupiah - Halaman all

Narasi itu sudah terlanjur beredar luas: rupiah melemah, ekspor menguat, ekonomi Indonesia untung. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, punya satu respons singkat untuk itu: totally wrong.

Dalam media briefing Bank Indonesia di Makassar, Josua mengingatkan bahwa klaim yang banyak beredar dari para influencer dan pelaku pasar itu mengabaikan satu hal fundamental soal struktur ekonomi Indonesia. Sebagian besar industri manufaktur nasional masih mengandalkan bahan baku impor. Ketika rupiah tergerus, biaya produksi ikut melonjak. Pendapatan tidak otomatis ikut naik.

Benar bahwa eksportir komoditas bisa tersenyum lebar saat kurs dolar menguat. Pendapatan mereka dalam dolar AS, begitu dikonversi ke rupiah, nilainya membesar. Tapi itu tidak berlaku merata. Industri manufaktur, yang menyumbang 19,07% terhadap PDB dan masih tumbuh 5,04% secara tahunan berdasarkan data BPS, justru menanggung beban lebih berat ketika rupiah terpuruk.

"It's good kalau kita bicara si pengekspor komoditas, ya memang pasti akan sangat diuntungkan. Tapi kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan," tegas Josua.

Ada dimensi lain yang kerap luput dari diskusi publik: dampak terhadap harga barang konsumsi. Sebagian impor Indonesia bukan bahan baku industri, melainkan barang yang langsung dikonsumsi. Pelemahan rupiah, dalam skenario itu, jadi pemantik inflasi yang menekan daya beli. Pukulan ganda, dan bukan yang ringan.

Yang dibutuhkan pelaku usaha, menurut Josua, bukan kurs yang lemah atau kurs yang kuat. Stabilitas. Kalau rupiah bisa diprediksi, seorang importir tahu persis berapa kebutuhan dolarnya tiga bulan atau enam bulan mendatang, bisa mengunci kontrak dengan pemasok luar negeri, dan menyusun perencanaan bisnis di atas pijakan yang solid. Volatilitas tinggi membuat semua kalkulasi itu buyar sebelum sempat dipakai.

Di sinilah mandat Bank Indonesia menjadi relevan. Josua menegaskan, BI tidak bertugas mengarahkan rupiah ke angka tertentu, melainkan menjaga stabilitasnya agar volatilitas tidak liar. Bagi dunia usaha, itu jauh lebih berharga daripada ilusi kurs yang sengaja dilemahkan demi mendorong ekspor.

Soal tekanan terhadap rupiah belakangan ini, Josua menyebut kombinasi beberapa faktor. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan fiskal Indonesia yang masih jadi sorotan lembaga pemeringkat global menjadi dua penekan utama. Dari sisi musiman, kuartal II memang secara historis mencatatkan lonjakan permintaan dolar, didorong pembayaran dividen perusahaan tercatat yang terkonsentrasi di bulan Mei, ditambah kebutuhan valuta asing untuk musim haji.

Data Permata Bank per 22 Mei 2026 mencatat rupiah telah melemah lebih dari 5% terhadap dolar AS secara year to date, sementara indeks dolar (DXY) hanya menguat sekitar 0,9% dalam periode yang sama. Artinya, tekanan pada rupiah jauh lebih besar dari sekadar efek penguatan dolar global. Angka yang patut dicermati, terutama bagi yang masih percaya pelemahan ini sepenuhnya "normal" atau bahkan menguntungkan.

Narasi sederhana memang selalu lebih mudah diserap. Tapi ketika yang menyebarkannya adalah influencer tanpa bekal analisis struktural yang memadai, dampaknya bisa membentuk ekspektasi pasar yang keliru. Dan sentimen pasar yang sudah terlanjur keliru, agaknya, lebih susah diluruskan daripada kurs yang sedang tertekan sekalipun.