RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah di Rp17.700-an: Alarm bagi Daya Beli hingga...

Finansial

Rupiah di Rp17.700-an: Alarm bagi Daya Beli hingga Perbankan Syariah

Rupiah yang tergelincir ke kisaran Rp17.700 per dolar AS bukan sekadar angka di layar trading — efek dominonya sudah mulai terasa di sektor riil, industri, hingga kualitas pembiayaan bank syariah.

Analysis: BI tightens USD access as rupiah pressures mount - Academia - The Jakarta Post

Rupiah menyentuh Rp17.704 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, level yang langsung memancing kekhawatiran dari kalangan akademisi dan pelaku industri keuangan. Angka ini bukan yang terburuk sepanjang sejarah, tapi durasi tekanan yang berlangsung menahun agaknya lebih mengkhawatirkan ketimbang lonjakan sesaatnya.

Prof. Firman Menne dari Universitas Bosowa menyebut pelemahan ini punya efek domino yang tidak bisa dianggap remeh. Biaya impor pupuk naik, bahan baku industri makanan lebih mahal, alat produksi pertanian ikut terkerek. Ujungnya, harga di pasar tradisional merayap naik, sementara dompet masyarakat berpenghasilan rendah tidak ikut tebal. "Efek domino dari kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah akan memicu kenaikan harga barang-barang di pasaran termasuk harga pangan," tegasnya.

Yang memperumit situasi ini adalah ketergantungan struktur produksi kita pada impor. Selama bahan baku masih didatangkan dari luar negeri, setiap penurunan nilai rupiah otomatis diterjemahkan menjadi kenaikan ongkos produksi. Inflasi pun jadi ancaman yang bukan sekadar statistik. Dalam jangka pendek, kata Firman, tekanan ini akan terasa lewat empat jalur sekaligus: harga impor naik, biaya produksi membengkak, beban utang luar negeri bertambah, dan daya beli publik terkikis.

Dari Yogyakarta, Dimas Bagus Wiranatakusuma, dosen Magister Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, membawa perspektif yang lebih spesifik soal perbankan syariah. Selama ini banyak yang beranggapan bank syariah lebih terlindungi dari gejolak kurs karena eksposur valuta asing dan instrumen derivatifnya memang kecil. Itu benar, tapi tidak sepenuhnya mengamankan. "Kemampuan nasabah membayar kewajiban pembiayaan kepada bank syariah ikut melemah. Di sinilah risiko non-performing financing mulai meningkat," kata Dimas dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Transmisinya tidak langsung. Pelemahan rupiah menaikkan biaya produksi pelaku usaha yang jadi nasabah bank syariah, terutama di sektor tekstil, manufaktur, farmasi, dan UMKM yang masih impor-intensif. Margin keuntungan mereka tergerus, kemampuan membayar cicilan pembiayaan ikut amblas. Bank syariah yang seharusnya tidak terseret arus kurs langsung, tetap merasakan getarannya lewat jalur kualitas aset.

Ada satu kanal tekanan yang sering luput dari perhatian. Ketika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi demi menstabilkan rupiah, biaya penghimpunan dana di sektor keuangan naik. Bank syariah memang tidak mengenal bunga, tapi dalam situasi ketidakpastian tinggi, masyarakat cenderung lebih berhati-hati menempatkan dana. "Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan likuiditas juga dapat dirasakan industri perbankan syariah," ujar Dimas.

Dari sisi penyebab, dua arah sekaligus menekan rupiah. Secara eksternal, kebijakan suku bunga tinggi The Fed dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah mendorong penguatan dolar sekaligus mengerek harga minyak. Dari dalam negeri: capital outflow, kebutuhan dolar untuk impor dan cicilan utang, plus defisit transaksi berjalan yang belum terselesaikan. Kombinasi yang tidak mudah dilawan dengan intervensi pasar semata.

Bukan berarti tidak ada celah. Firman menunjuk sektor ekspor dan pariwisata yang bisa menangguk keuntungan dari rupiah yang murah, asal kapasitas produksi domestik cukup kuat. "Kalau kondisi ekonomi domestik lesu, tentu produktivitas menjadi rendah sehingga sulit melakukan ekspor," katanya. Sementara Dimas melihat tekanan ini sebagai momentum bagi perbankan syariah untuk justru memperdalam pembiayaan ke sektor produktif domestik: UMKM, industri halal lokal, pertanian, hingga energi terbarukan. Logikanya sederhana: semakin kuat basis ekonomi domestik yang dibiayai, semakin kecil risiko yang ditanggung ketika rupiah goyang.

Pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah rupiah akan pulih. Melainkan seberapa dalam ekosistem industri kita sudah dibenahi sebelum guncangan berikutnya datang.