SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah di Rp17.500, Bank Pasang Kuda-Kuda di Kredi...

Ekonomi

Rupiah di Rp17.500, Bank Pasang Kuda-Kuda di Kredit Valas

Depresiasi rupiah yang sempat menembus Rp17.500 per dolar AS memaksa perbankan memperketat strategi kredit valas sekaligus bersiap menghadapi persaingan likuiditas yang makin sengit.

Pelemahan Rupiah Picu Kompetisi Likuiditas - Halaman all

Rupiah sempat menyentuh Rp17.500 per dolar AS, dan industri perbankan tidak bisa pura-pura biasa saja. Tekanan itu kini terasa di dua titik sekaligus: biaya dana yang berpotensi merangkak naik, dan penyaluran kredit valuta asing yang harus dikelola jauh lebih hati-hati dari sebelumnya.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan menyebut, depresiasi yang berlangsung berkepanjangan secara logis akan mendorong cost of fund (CoF) perbankan lebih mahal. "Rasionalnya jika nilai tukar melemah terus maka CoF bisa menjadi lebih mahal dan persaingan likuiditas bisa lebih tinggi," ujar Lani. Pernyataan itu singkat, tapi implikasinya tidak ringan bagi bank-bank yang porsi dana valasnya besar.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat outstanding kredit valas sebesar Rp48,9 triliun per Maret 2026, tumbuh 2,9% secara tahunan. Masih positif. Tapi angka itu perlu dibaca dalam konteks kehati-hatian yang kini menjadi nada umum industri. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut BCA terus mencermati dinamika nilai tukar dalam setiap keputusan penyaluran kredit valas. Bukan pembekuan, tapi selektivitas yang agaknya bakal makin ketat seiring rupiah yang belum menunjukkan sinyal pemulihan kuat.

Masalahnya bukan hanya soal margin. Depresiasi yang berkepanjangan membuka risiko lain yang lebih struktural: kualitas kredit. Debitur berpenghasilan rupiah tetapi punya kewajiban dalam dolar otomatis menanggung beban yang bertambah berat setiap kali kurs bergerak. Dalam skenario seperti ini, risiko kredit valas bukan sekadar angka di laporan risiko. Ia bisa bergerak cepat kalau kurs tidak segera stabil.

Persaingan likuiditas yang disinggung Lani juga menarik dicermati. Ketika biaya dana naik, bank-bank akan berebut simpanan lebih agresif, terutama dana murah. Bank dengan basis CASA kuat punya ruang nafas lebih lebar. Yang terlalu bergantung pada deposito, entah kebetulan atau tidak, justru akan merasakan tekanan CoF paling duluan. Bak pedang bermata dua: depresiasi menekan sisi aset sekaligus memperketat sisi pendanaan.

Sepanjang kuartal pertama 2026, tekanan eksternal sudah terasa di mana-mana, dan nilai tukar menjadi salah satu variabel yang paling susah dijinakkan dari dalam kantor manajemen bank. Yang bisa dilakukan, persis seperti yang sedang dikerjakan BCA dan CIMB Niaga, adalah menyesuaikan postur dan menunggu dengan penuh perhitungan. Pertanyaannya, sampai kapan postur bertahan cukup?