IHSG tergelincir 1,5 persen ke level 6.053 pada Kamis sore, 8 Oktober 2026, setelah risalah rapat Federal Open Market Committee September 2026 yang dirilis sehari sebelumnya mempertegas satu pesan yang tidak ingin didengar pasar: suku bunga tinggi belum akan kemana-mana.
Risalah FOMC yang mencakup rapat 15-16 September itu membuka perpecahan di internal The Fed. Sekelompok pejabat mendorong opsi satu hingga dua kali kenaikan tambahan sebelum tahun berganti, dengan alasan risiko lonjakan inflasi dari potensi gejolak rantai pasok dan harga energi. Kubu yang lebih hati-hati ingin menunggu dulu, melihat dampak kumulatif pengetatan moneter sebelumnya terhadap belanja konsumen. Hasilnya bisa ditebak: dot plot The Fed tetap menunjukkan mayoritas dari 19 pejabat memproyeksikan satu kenaikan lagi, menempatkan estimasi suku bunga acuan di kisaran median 4,1 persen pada akhir 2026. Suku bunga saat ini sudah di 3,75-4,00 persen setelah satu kali kenaikan 25 basis poin sepanjang tahun ini.
Dampaknya terasa seketika. Dow Jones melemah 0,66 persen, Nasdaq dan S&P 500 masing-masing 0,22 persen. Nikkei Tokyo anjlok 1,42 persen, Hang Seng terkoreksi 1,33 persen, dan Straits Times Singapura terpuruk 3,36 persen. Indonesia tidak kebal. Pada sesi pertama, IHSG masih menahan diri di pelemahan 0,8 persen ke level 6.097 dengan net sell asing Rp194 miliar, tapi tekanan berlanjut hingga sore. Dua hari sebelumnya, Selasa 6 Oktober, IHSG sempat menyentuh 6.211. Pembalikan tajam. Dalam hitungan 48 jam.
Bagi investor fixed income, yang lebih bikin deg-degan justru soal spread. Yield INDOGB tenor 10 tahun berada di 7,17 persen, sementara US Treasury tenor yang sama tertahan di 5,30 persen dan sempat menyentuh 5,33 persen, level tertinggi dalam 24 tahun. Selisihnya kini tinggal 188,4 basis poin. Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menegaskan dalam laporannya, "Penyempitan selisih imbal hasil tersebut menuntut investor untuk tetap relatif hati-hati, terutama terhadap obligasi berdurasi panjang." Volatilitas ini, tambahnya, ikut menahan rupiah di kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Ada sedikit angin segar kemarin malam, kalau data ini bisa dipercaya bertahan. Ekonom dan Analis Fixed Income BCA Sekuritas Felix Darmawan mencatat permintaan yang cukup kuat pada lelang US Treasury tenor 10 tahun sempat menarik yield turun dari level intraday tertinggi. "Semalam (7/10/2026) ada sedikit relief dari sisi US Treasury, karena auction obligasi tenor 10 tahun cukup kuat. Permintaan tinggi membuat yield kembali turun dari level (perdagangan) intraday yang sempat sangat tinggi sehingga tekanan ke pasar agak mereda," ujarnya. Tapi Felix cepat mengingatkan bahwa kelegaan itu bersifat sementara. "Saya melihat, meredanya tekanan pasar akan sangat bergantung pada meredanya tensi geopolitik, melandainya harga minyak dunia, serta penurunan ekspektasi suku bunga global," tegasnya.
IMF menambah daftar kekhawatiran dengan menyoroti risiko berlapis: harga energi yang melonjak, utang publik yang menggelembung, dan booming investasi AI yang berpotensi menjaga inflasi global tetap membandel lebih lama dari perkiraan. Bak pedang bermata dua, tekanan eksternal ini mengepung pasar domestik dari dua arah sekaligus.
Pertanyaannya, apakah ada yang bisa jadi penyeimbang? Agaknya ada, meski bukan dari pasar saham atau obligasi. OJK melaporkan jumlah konsumen kripto mencapai 23,21 juta pada Agustus 2026, naik 1,23 persen dari Juli, dengan nilai transaksi Rp23,16 triliun, melonjak hampir 13 persen secara bulanan. Indodax membukukan volume transaksi Rp9 triliun pada periode yang sama, tumbuh sekitar 20 persen month-on-month. Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menyebut angka itu mencerminkan aktivitas domestik yang tetap bergairah. "Investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi," ujarnya.
Rapat FOMC berikutnya dijadwalkan 27-28 Oktober 2026. Sebelum itu, data ekonomi AS yang bergulir dalam beberapa pekan ke depan kemungkinan besar lebih menggerakkan pasar ketimbang pernyataan pejabat mana pun. Sampai spread INDOGB-UST kembali melebar ke zona nyaman, posisi wait and see di aset berisiko durasi panjang bukan pilihan paling buruk bagi investor ritel Indonesia.