Setinggi 2,6 meter, berlapis emas 23 karat, dan tanpa sehelai busana pun. Patung karya seniman Denmark Jens Galschiøt resmi mejeng di koridor Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, awal pekan ini. Bukan provokasi kecil.
Karya bertajuk "The Orange Plague" itu menggambarkan Donald Trump duduk di atas pundak seorang pria bertubuh kecil dan lemah, kedua pahanya mengapit kepala sang pria, sementara kedua tangan menggenggam tongkat golf dan timbangan sebagai simbol keadilan yang terdistorsi. Di alas patung, tertera tulisan yang agaknya lebih pedas dari penampilannya: "Aku duduk di punggung seorang pria. Dia semakin tenggelam akibat beban yang kutimpakan kepadanya. Aku akan melakukan apa saja untuk membantunya. Kecuali turun dari punggungnya."
Galschiøt mengaku terinspirasi dari dongeng Hans Christian Andersen, "The Emperor's New Clothes", kisah klasik tentang raja congkak yang berparade tanpa pakaian. Pilihan inspirasi yang tidak terlalu halus. "Para diktator tidak suka ditertawakan," ujar Galschiøt dalam wawancara usai peluncuran karya tersebut pada 6 Oktober 2026.
Patung berbahan tembaga yang juga dijuluki "King of Injustice" ini bukan debut pertama di panggung internasional. Sudah melanglang ke Konferensi Keamanan Munich, demonstrasi "Hands Off Greenland" di Kopenhagen awal tahun ini, hingga konferensi iklim PBB COP30 di Belém, Brasil, pada 2025. Bulan depan, dijadwalkan hadir lagi di COP31 di Antalya, Turki.
Pameran di Strasbourg digelar atas undangan Per Clausen, anggota Parlemen Eropa dari Red-Green Alliance, partai sosialis Denmark yang tergabung dalam kelompok The Left di parlemen, dengan porsi sekitar 6 persen kursi. Setiap anggota parlemen memang punya hak menggelar pameran, tapi tetap butuh persetujuan pejabat berwenang. Artinya, ini bukan sikap resmi Uni Eropa. Tapi bagi Galschiøt yang sempat khawatir izinnya ditolak, keluarnya persetujuan itu sudah cukup bermakna.
Clausen sendiri tak gentar soal kemungkinan reaksi Trump. "Jika seseorang begitu sensitif sehingga tak bisa mentoleransi patung ini dipamerkan di Parlemen Eropa, maka mereka tidak pantas berada di panggung dunia," tegasnya dari Strasbourg.
Ada dimensi lain yang patut dicermati. Banyak politikus dan organisasi nonpemerintah, kata Galschiøt, sebenarnya segan mengkritik Trump secara terbuka karena takut berhadapan dengan konsekuensi nyata: deportasi, pemangkasan anggaran, kenaikan tarif. "Sebagai bengkel seni independen, kami tak dibatasi oleh ikatan semacam itu," ungkapnya.
Selain patung utama, lebih dari 1.000 miniatur cetak 3D dibagikan kepada pengunjung yang melintas sebagai simbol protes. Pameran dijadwalkan berlangsung singkat, hanya hingga Kamis. Cukup untuk membikin ramai satu koridor Parlemen Eropa, dan entah kebetulan atau tidak, viral jauh melampaui Strasbourg.
Galschiøt sebelumnya dikenal lewat "Pillar of Shame", monumen peringatan korban pembantaian Tiananmen yang sempat berdiri di Hong Kong sebelum dibongkar paksa pada 2021. Kali ini targetnya berbeda, skalanya global. Mediumnya: emas 23 karat yang, seperti kata sang seniman, "Trump menyukai emas. Dalam beberapa hal, dia mungkin justru akan menyukai patung ini."