SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Perang Iran Kuras Dompet Warga AS, tapi Konsumsi M...

Ekonomi

Perang Iran Kuras Dompet Warga AS, tapi Konsumsi Masih Ogah Ambruk

Konflik AS-Iran mendongkrak biaya energi warga Amerika lebih dari Rp652 triliun, namun data penjualan ritel April justru mengejutkan pasar dengan kenaikan tiga bulan berturut-turut.

Perang Iran Kuras Kantong Warga AS, Ongkos BBM Tembus Rp600 Triliun

Harga bensin di pompa-pompa bahan bakar Amerika Serikat kini melampaui US$4,5 per galon, melonjak lebih dari 50% sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Studi dari Brown University memperkirakan konflik ini telah memaksa warga AS merogoh kocek ekstra hingga US$37,3 miliar, atau sekitar Rp652,75 triliun, hanya untuk menanggung selisih biaya energi. Jeff Colgan, pemimpin proyek Iran War Energy Cost Tracker yang dirilis universitas itu, menyebut beban ini paling terasa di sektor transportasi, bukan, bukan em dash, maksudnya: paling terasa lewat ongkos perjalanan harian dan liburan musim panas yang secara historis jadi puncak konsumsi BBM.

Akar masalahnya ada di Selat Hormuz. Iran menutup jalur pelayaran strategis itu sebagai balasan atas serangan AS-Israel, memutus salah satu urat nadi distribusi minyak global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Efeknya langsung terasa di pasar energi dunia. Iran juga menghantam infrastruktur energi sekutu-sekutu Arab AS di kawasan Teluk, termasuk serangan misil ke Ras Laffan di Qatar pada 18 Maret. Ras Laffan bukan sembarang lokasi. Ini pusat produksi LNG terbesar di dunia.

Blokade jalur laut sekaligus serangan terhadap fasilitas produksi, dua pukulan sekaligus, membuat rantai pasok energi global benar-benar koyak. Imbasnya tidak hanya... ah, revisi: dampaknya merembet jauh, bukan sekadar ke negara-negara importir minyak, tapi langsung memukul konsumen AS yang secara struktural sangat bergantung pada kendaraan pribadi.

Tapi inilah yang agaknya bikin pelaku pasar garuk-garuk kepala. Data penjualan ritel AS untuk April justru naik 0,5% dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ketiga bulan berturut-turut. Angka itu memang lebih modest ketimbang lonjakan 1,6% di Maret, tapi masih melampaui konsensus ekonom yang memproyeksikan kenaikan sekitar 0,6%. Cukup untuk bikin pasar berpikir dua kali.

Sentimen konsumen AS sedang berada di titik terendah dalam beberapa waktu terakhir, sementara belanja ritel justru bertahan. Kontradiksi yang tidak mudah dijelaskan. Penjelasan paling masuk akal, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya: pasar tenaga kerja AS masih solid. Tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan gaji yang relatif stabil membuat sebagian besar rumah tangga, terpaksa atau tidak, terus membelanjakan uang mereka setidaknya untuk kebutuhan pokok.

Bagi pasar forex, data ritel yang lebih kuat dari prediksi itu langsung memberikan amunisi bagi dolar AS. Ekonomi yang tahan banting membuat investor global lebih nyaman menaruh dana di aset-aset berdenominasi dolar. EUR/USD dan GBP/USD tertekan dalam skenario ini. USD/JPY bisa mendapat dorongan tambahan. Emas? Bisa dua arah: dihajar oleh dolar yang menguat, tapi setidaknya itu klaim sebagian analis, masih punya peminat sebagai aset safe haven selama ketegangan geopolitik belum mereda.

Pertanyaannya, berapa lama ketahanan konsumsi AS ini bisa bertahan jika harga energi terus menggerogoti daya beli? Tambahan Rp652 triliun dalam tagihan energi bukan angka yang bisa diserap selamanya. Data kuartal-kuartal berikutnya yang akan menjawab.