Saham NVIDIA (NVDA) ditutup di level USD 236,46 per lembar, setara sekitar Rp 4,13 juta, setelah Departemen Perdagangan Amerika Serikat membuka kembali akses penjualan chip AI canggih H200 ke sejumlah raksasa teknologi Tiongkok. Dalam satu sesi perdagangan, saham ini melonjak hampir 5 persen. Para short seller, bisa ditebak, kena tampar.
Sekitar 10 perusahaan Tiongkok mendapat persetujuan pembelian, termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com. Lenovo dan Foxconn ditunjuk sebagai distributor resmi. Keputusan ini secara efektif mengubur kebijakan pembatasan ekspor Oktober 2023 yang selama itu memutus Tiongkok dari ekosistem chip AI kelas atas NVIDIA.
Bagi investor, ini bukan berita dagang biasa. Sebelum embargo diberlakukan, pasar Tiongkok menyumbang hampir seperempat total pendapatan NVIDIA, dengan nilai bisnis diperkirakan sekitar USD 8 miliar per tahun atau setara Rp 140 triliun. Terbukanya kembali jalur ini langsung memicu kalkulasi ulang atas proyeksi pertumbuhan segmen data center NVIDIA, mesin utama di balik ledakan AI global.
CEO Jensen Huang tidak menyembunyikan antusiasmenya. Ia menyebut kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok sebagai "salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah manusia." Terdengar lebay, tapi agaknya mencerminkan betapa besarnya taruhan NVIDIA di pasar tersebut. Huang memang sudah lama mendorong agar akses NVIDIA ke Tiongkok diperluas, mengingat potensi pasar yang ditaksir mencapai USD 50 miliar.
Reli NVDA hadir saat momentum pasar memang sedang panas. S&P 500 mencatat kenaikan selama tujuh minggu berturut-turut, ditopang performa solid saham-saham pertumbuhan besar, sektor energi, komoditas, hingga keamanan siber. NVIDIA, bersama Apple dan Microsoft, masuk jajaran kontributor utama penguatan indeks. Bisa jadi ini bukan sekadar euforia sesaat. Rotasi serius ke saham dengan eksposur langsung ke infrastruktur AI, kalau data ini bisa dipercaya, sedang berlangsung.
Namun ada satu hal yang kerap tenggelam di balik gegap gempita itu. Chip H200 belum benar-benar dikirim. Pemerintah Tiongkok masih melakukan peninjauan internal atas transaksi tersebut, artinya ada jeda antara izin di atas kertas dan realisasi pendapatan di laporan keuangan. Investor yang masuk sekarang pada dasarnya membeli narasi, bukan angka yang sudah terkonfirmasi. Itu selalu punya risiko tersendiri, setidaknya itu yang sejarah pasar ajarkan berulang kali.