Guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern pasar minyak, dan harganya justru tidak kemana-mana. Brent mentok di 115 dolar AS per barrel, minyak mentah AS tidak tembus 113 dolar, sementara para analis yang berani pasang target 150 hingga 200 dolar kini harus mengakui kalkulasi mereka amblas.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sempat menahan sekitar 13 juta barrel minyak per hari, nyaris seperlima pasokan global. JPMorgan memperkirakan dunia kehilangan sekitar 1,6 miliar barrel sepanjang Februari hingga Agustus. Di atas kertas, angka itu seharusnya cukup untuk membakar harga. Tapi tidak terjadi. Pasar, entah kebetulan atau tidak, punya banyak penyangga yang tidak diperhitungkan.
Cadangan global sebelum konflik pecah ternyata tebal. JPMorgan mencatat sekitar 407 juta barrel minyak siap pakai tersedia sebagai bantalan. IEA melepas tambahan 400 juta barrel cadangan strategis ke pasar. Lalu ada keputusan Presiden Trump mencabut sanksi ekspor minyak Rusia dan Iran, yang secara paradoks justru menambah pasokan di saat krisis. Belum lagi puluhan kapal tanker yang selama Selat Hormuz ditutup tetap beroperasi dengan mematikan sistem pelacak, mengalirkan sekitar 2 juta barrel per hari secara diam-diam.
"Pasar cenderung menyelesaikan masalah dengan lebih efisien daripada yang diperkirakan," kata Peter Taylor, Kepala Strategi Komoditas Macquarie Group. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi impikasinya besar: model risiko yang dipakai mayoritas analis terbukti terlalu konservatif dalam mengestimasi fleksibilitas pasar.
Dari sisi permintaan, ceritanya sama mengejutkan. JPMorgan memperkirakan perang Iran memangkas permintaan minyak global sekitar 800 juta barrel. China jadi kontributor terbesar penurunan ini, dengan konsumsi tergerus sekitar 2,6 juta barrel per hari. Beijing menguras cadangan yang sudah disiapkan sebelum perang sambil menggenjot pembangkit batu bara. Peralihan masif ke kendaraan listrik ikut memotong sekitar 1 juta barrel per hari dari permintaan China. Dua pukulan sekaligus.
Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas Global JPMorgan, menjelaskan melemahnya permintaan bekerja berbeda dari menyusutnya stok. Ketika stok menipis, kilang berebut pasokan dan harga terdorong naik. Tapi ketika permintaan amblas duluan, harga ikut terseret ke bawah. Dua kekuatan berlawanan ini saling menetralisir, dan hasilnya adalah harga yang, kalau data ini bisa dipercaya, nyaris tidak bergerak dari kisaran yang jauh di bawah skenario terburuk.
Produksi Brasil dan Venezuela naik mengisi celah yang ditinggalkan Timur Tengah. AS tidak menaikkan produksi secara agresif, tapi berperan sebagai pemasok terakhir yang mencegah krisis avtur di Eropa dan kelangkaan solar di Australia.
Dalam konferensi pers pekan lalu, IMF menyambut gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai perkembangan positif. Direktur Komunikasi IMF Julie Kozack mencatat harga minyak sudah turun dari puncaknya, meski masih sekitar 10 persen di atas level sebelum perang. Harga gas alam, logam dasar, avtur, hingga pupuk juga mulai melandai. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?
Kozack mengingatkan normalisasi tidak datang dalam semalam. Kapal-kapal yang terdampak masih perlu waktu untuk merapat, bongkar muatan, dan mendistribusikan barang ke konsumen akhir. Setidaknya itu penjelasan resminya.
Risiko belum benar-benar pergi. Persediaan minyak di Cushing, Oklahoma, pusat distribusi AS, amblas ke bawah 19 juta barrel, terendah sejak Agustus 2014. Alan Gelder dari Wood Mackenzie mengingatkan kesepakatan politik dengan Iran belum otomatis memulihkan aliran pasokan. "Mengembalikan pasokan minyak ke tempatnya adalah tantangan yang berbeda dari sekadar mencapai kesepakatan politik," tegasnya. Gelder memperkirakan 90 persen produksi pra-perang bisa pulih dalam enam bulan, tapi normalisasi penuh butuh waktu lebih lama.
Ada satu variabel lagi yang luput dari banyak proyeksi. China dan sejumlah negara lain agaknya akan mulai mengisi ulang cadangan strategis yang terkuras selama konflik. Kalau ini terjadi bersamaan, permintaan bisa kembali melonjak di penghujung 2026 hingga 2027, justru ketika pasar sudah mulai santai. IEA memproyeksikan surplus pasokan global sekitar 5 juta barrel per hari pada tahun depan, tapi itu asumsi yang bergantung pada banyak variabel yang masih bergerak.
IMF secara khusus menyoroti negara-negara pengimpor energi bersih dengan ruang fiskal sempit sebagai kelompok paling rentan apabila gejolak kembali terjadi. Banyak negara di Afrika masuk kategori ini, tanpa cadangan memadai dan kemampuan fiskal yang terbatas untuk meredam kejutan harga. Bak pedang bermata dua: ketika harga normal, mereka tidak sempat membangun bantalan. Ketika harga meledak, tidak ada bantalan yang bisa diandalkan.
Buat pelaku pasar yang sempat nyangkut di posisi long komoditas energi, pelajarannya pahit tapi berharga. Taylor merangkumnya paling ringkas: "Harus gesit."