Angka Rp 1,2 miliar mungkin terdengar jauh, tapi itulah target portofolio yang dibutuhkan seseorang dengan pengeluaran Rp 5 juta per bulan untuk mencapai merdeka finansial, berdasarkan simulasi yang dirilis Pluang. Kalau pengeluaran bulananmu dua kali lipat, targetnya pun berlipat ganda: Rp 2,4 miliar.
Rumusnya sebenarnya sederhana. Kalikan pengeluaran bulanan dengan 12, lalu bagi dengan asumsi imbal hasil yang diharapkan. Dengan asumsi dividend yield 5% per tahun, pengeluaran Rp 5 juta per bulan setara Rp 60 juta per tahun. Bagi Rp 60 juta dengan 0,05, kamu dapat angka Rp 1,2 miliar. Berlaku seterusnya, sesuai kondisi masing-masing.
Angka 5% bukan dipilih sembarangan. Indeks IDX High Dividend 20 di Bursa Efek Indonesia mencakup 20 perusahaan yang rutin membagikan dividen tunai minimal tiga tahun berturut-turut, dengan rata-rata dividend yield historis di kisaran 5% hingga 7% per tahun. Dalam beberapa laporan, rata-ratanya bahkan menyentuh 6,8%. Di luar saham, ada Surat Berharga Negara yang pada 2026 menawarkan kupon penerbitan di rentang 5,45% hingga 7%. ORI030 yang terbit Juli 2026 mencatat kupon tertinggi dalam delapan tahun, dengan imbal hasil bersih sekitar 4,91% hingga 6,3% setelah pajak final 10%.
Sebagai acuan siapa yang masuk hitungan ini, Pluang memakai standar BPS. Badan Pusat Statistik mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok dengan pengeluaran 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan. Berdasarkan rilis BPS pada 5 Agustus 2026, garis kemiskinan per Maret 2026 tercatat Rp 669.235 per orang per bulan, sehingga kisaran pengeluaran kelas menengah berada di rentang Rp 2,34 juta hingga Rp 11,38 juta per individu setiap bulannya.
Tapi portofolio besar saja belum cukup. Tiga fondasi harus berdiri bersamaan: aset produktif yang menghasilkan arus kas rutin, kondisi bebas dari utang konsumtif berbunga tinggi, dan dana darurat yang kuat. Ketiganya wajib. Utang konsumtif berbunga tinggi menggerus imbal hasil sebelum keuntungan sempat berkembang. Absen dana darurat? Investor bisa terpaksa melepas aset jangka panjang di momen paling buruk, tepat ketika pasar sedang dihajar koreksi.
Jadi kalau portofoliomu sudah menyentuh angka target tapi cicilan kartu kredit belum lunas, kebebasan finansial itu agaknya masih setengah jalan. Bisa jadi bahkan kurang dari itu.
Satu hal yang patut dicermati: merdeka finansial bukan soal seberapa besar penghasilan aktif, melainkan soal struktur keuangan. Pluang menilai perubahan terbesar dalam satu dekade terakhir bukan perjalanan yang kian pendek menuju angka tersebut, melainkan akses instrumen investasi yang kian terbuka lebar bagi masyarakat yang lebih luas. Orang dengan modal terbatas pun kini bisa mulai membangun. Yang susah, jujur saja, adalah konsistensinya.