Harga minyak mentah sudah menembus 100 dolar AS per barel, setara sekitar Rp 1,6 juta. Bukan karena spekulasi pasar. Iran memblokade Selat Hormuz setelah tujuh bulan perang berkecamuk sejak serangan AS dan Israel, dan hampir 20 persen pasokan minyak mentah dunia yang biasa melintas di perairan sempit itu kini tersumbat.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara tidak memilih kata-kata yang lunak. Konflik Timur Tengah, tegasnya, adalah risiko paling utama bagi perekonomian global saat ini. "Menggerakkan hampir semua elemen di dunia, militer, sektor keuangan, perdagangan. Ini menjadi eskalasi politik yang meningkatkan ketidakpastian," kata Suahasil dalam Antara Business Forum di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Ketidakpastian itu bukan abstrak. Di Bangladesh, pabrik garmen yang menyerap 4 juta tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 80 persen pendapatan ekspor negara itu kini tersengal-sengal. Senin (21/9/2026), pemerintah Bangladesh menaikkan harga bahan bakar lebih dari 17 persen, dipaksa oleh lonjakan harga global dan biaya pengiriman yang meledak akibat konflik. Eksportir garmen Shahidullah Azim sudah di titik kritis. "Margin keuntungan kami sudah sangat tipis dan kenaikan harga bahan bakar ini akan semakin menggerusnya. Semakin sulit bagi kami untuk menanggung kenaikan biaya produksi dan transportasi sembari tetap menjaga daya saing," katanya.
Sebagian industri bertahan dengan cara yang tidak biasa. Perusahaan outerwear 4A Yarn Dyeing di pinggiran Dhaka, boleh dibilang, sudah bersiap sejak tujuh tahun lalu. Sekitar 40 persen kebutuhan listriknya dipasok dari panel surya, sisanya dari pembangkit gas dan diesel sendiri. "Kami tidak pernah bergantung pada satu sumber energi saja. Kami memiliki cadangan untuk segala hal," ungkap salah satu pemiliknya, Abdullah Hil Nakib. Meski begitu, Nakib mengakui harga solar yang mahal telah mendongkrak biaya produksi 2-3 persen dan menambah beban bahan bakar bulanan hingga 5 juta taka, sekitar Rp 730 juta.
Sebelum perang meletus, harga minyak masih di bawah 73 dolar AS per barel. Kini sudah di atas 100 dolar AS. Bukan sekadar angka di layar Bloomberg, tapi biaya nyata yang harus ditanggung pabrik tekstil di Dhaka, distributor di Mesir, hingga pengecer di Libya. Di Mesir, pemerintah sempat memaksa pusat perbelanjaan dan restoran tutup sebelum pukul 21.00 demi menekan konsumsi energi, meski hotel dan tempat wisata dikecualikan. Libya, lebih pragmatis, mendirikan stasiun BBM keliling lewat Brega Petroleum Marketing dengan kuota 300 liter per kendaraan agar usaha kecil tetap bisa bernapas.
Tekanan belum selesai. Konflik Arab Saudi dan Houthi yang kembali memanas menyumbat ekspor minyak Saudi lewat Laut Merah, memperparah pasar energi yang agaknya belum akan menemukan keseimbangan dalam waktu dekat. Masha Kotkin dari CSIS menilai ketahanan pasar energi global sedang menipis. "Ekspor minyak dan gas dari produsen di kawasan Teluk telah menurun karena kerusakan infrastruktur yang berulang kali terkait perang dan kendala pengiriman," ujarnya.
Untuk Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah guncangan ini terasa, tapi seberapa dalam. Suahasil menekankan perlunya memantau dua hal sekaligus: arah kebijakan moneter The Fed dan proyeksi pertumbuhan mitra dagang utama. "Ini menentukan sekali hubungan dagang, menentukan sekali ekspor kita, menentukan sekali permintaan dari pasar-pasar ekspor," tegasnya.
Satu catatan yang patut dicermati datang dari peneliti senior Chatham House, Patrick Schroder: krisis ini berpotensi mendorong lonjakan produksi biofuel dalam empat tahun mendatang sebagai pelarian dari ketergantungan minyak Teluk. Tapi Schroder mengingatkan, biofuel bukan solusi permanen. Ibarat pedang bermata dua, upaya melepas diri dari minyak Timur Tengah bisa menciptakan krisis lain yang tidak kalah pelik, mulai dari persaingan lahan, kerawanan pangan, hingga deforestasi.