RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Lo Kheng Hong Serok DILD, GJTL, dan SIMP di Tengah...

Finansial

Lo Kheng Hong Serok DILD, GJTL, dan SIMP di Tengah IHSG Sempoyongan

Investor kawakan Lo Kheng Hong memanfaatkan tekanan IHSG untuk memborong saham DILD, GJTL, dan SIMP secara agresif sepanjang Mei 2026, sekaligus meraup dividen hampir Rp69 miliar dari portofolionya yang kini mencakup lebih dari 17 emiten.

Investor kawakan, Lo Kheng Hong (LKH) tercatat melakukan akumulasi saham PT Intiland Development Tbk (DILD) dan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). (Foto: Ist)

Saat kebanyakan investor sibuk panik, Lo Kheng Hong justru belanja. Sepanjang pekan ketiga Mei 2026, investor yang kerap dijuluki Warren Buffett Indonesia itu tercatat aktif memborong tiga emiten sekaligus: PT Intiland Development Tbk (DILD), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), memanfaatkan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan yang belum juga reda.

Untuk DILD, Lo membeli 15,17 juta lembar saham pada 4 Mei 2026 dengan harga Rp129 per saham, total transaksi sekitar Rp1,95 miliar. Bukan yang pertama: dia aktif mengakumulasi saham emiten properti tersebut sejak akhir 2025. Setelah transaksi teranyar, kepemilikannya di DILD mencapai 733,68 juta lembar atau sekitar 7,08% dari saham beredar. Data KSEI yang lebih baru bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi, 750,52 juta saham setara 7,24%, mengindikasikan pembelian lanjutan yang terus berjalan.

Di GJTL, Lo tidak kalah getol. Merujuk data KSEI per 21 Mei 2026, kepemilikannya di produsen ban tersebut naik menjadi 6,77% setelah ia menambah sekitar 912 ribu lembar saham. Sebelumnya, pada periode 11-12 Mei, dia sudah memborong 692.100 saham GJTL. Hampir setiap bulan. Akumulasi yang konsisten ini menjadikan GJTL salah satu posisi yang paling agresif diperbesar dalam portofolionya. Pasar tampaknya memperhatikan: dalam sepekan, harga GJTL melesat 4,24% dan secara year-to-date sudah menanjak 17,70% ke level Rp1.230 per saham per 13 Mei.

Lalu ada SIMP. Lo tercatat memborong 22,62 juta lembar saham emiten CPO Grup Salim itu sepanjang Mei 2026, mendongkrak kepemilikannya dari 771,01 juta lembar atau 4,97% per akhir April menjadi 793,64 juta lembar per 20 Mei. Ini membawanya kembali menembus ambang 5%, setelah sempat amblas di bawah level tersebut akibat aksi lego sebanyak 8,18 juta saham pada April lalu. Lo pertama kali masuk ke SIMP sekitar Juni 2025, dengan harga beragam di kisaran Rp432-442 per lembar. Kini SIMP ditutup di Rp535, tergerus 6,14% sejak awal tahun. Beli lebih mahal, jual belum. Tapi Lo agaknya tidak terlalu risau.

Satu hal yang luput dari perhatian banyak orang: Lo juga sedang menikmati guyuran dividen. Hingga 12 Mei 2026, total dividen yang sudah dipastikan masuk ke kantongnya mencapai sekitar Rp69 miliar. Angka yang tidak main-main. Masuk akal jika sebagian dana segar itu diputar kembali untuk mengakumulasi saham-saham yang dianggapnya masih murah, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cerminan strategi.

Per akhir April 2026, Lo tercatat menggenggam 13 portofolio saham dengan kepemilikan di atas 1%, tersebar dari properti, ban, perkebunan sawit, batu bara, hingga media. Lima di antaranya menembus kepemilikan di atas 5%: DILD, GJTL, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dengan porsi 6,43%, PT ABM Investama Tbk (ABMM) sebesar 5,64%, dan SIMP yang kembali melewati ambang tersebut setelah aksi borong terakhir. Pertanyaannya, berapa banyak lagi yang akan menyusul? Lo sendiri pernah mengakui kepada Bisnis bahwa portofolio jumbo-nya lebih dari 17 emiten, termasuk beberapa nama yang masuk 10 besar pemegang saham di PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP).

Satu catatan yang patut dicermati: SRIL alias Sritex, portofolio terkecilnya dengan kepemilikan 1,02%, kini sahamnya disuspensi BEI dan masuk daftar delisting. Nyangkut di sana, meski tidak terlalu besar secara persentase.

Beli saat orang lain takut adalah prinsip value investing yang mudah diucapkan, tapi jarang konsisten dijalankan. Lo Kheng Hong, entah kebetulan atau tidak, tampaknya tidak terlalu khawatir dengan IHSG yang sempoyongan.