KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  KUR BRI vs Mandiri 2026: Bunga Mulai 3%, Plafon hi...

Finansial

KUR BRI vs Mandiri 2026: Bunga Mulai 3%, Plafon hingga Rp500 Juta

Pemerintah menetapkan pedoman baru KUR 2026 lewat Permenko Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026. BRI dan Mandiri menjadi dua penyalur utama dengan skema bunga bersubsidi yang kompetitif untuk UMKM.

Why Is KUR BRI Popular for Supporting UMKM Business Capital?

Sepanjang 2026, skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) datang dengan wajah baru. Pemerintah menerbitkan Permenko Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026 yang memperbarui struktur bunga dan ketentuan pembiayaan, membuat program ini makin relevan bagi pelaku UMKM yang butuh suntikan modal tapi belum cukup bankable untuk masuk jalur kredit komersial biasa.

Angka yang paling mencolok: bunga KUR Super Mikro ditetapkan hanya 3% efektif per tahun. Bandingkan dengan Kupedes BRI yang bunganya berkisar 19,75% hingga 26%. Selisihnya langsung terasa. KUR Mikro dan KUR Kecil dikenakan 6% per tahun, khusus untuk sektor produksi dan perdagangan berorientasi ekspor. Agaknya, pemerintah sengaja memberikan insentif lebih besar ke sektor yang punya dampak ekspor langsung.

BRI dan Mandiri sama-sama menawarkan tiga kategori dasar: KUR Super Mikro, KUR Mikro, dan KUR Kecil. Plafonnya berjenjang, dari Rp10 juta di level Super Mikro sampai Rp500 juta di KUR Kecil. Mandiri selangkah lebih jauh, menambahkan KUR Penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan KUR Khusus, dua kategori yang tidak ada di lini KUR BRI.

Satu hal yang perlu dicermati calon debitur: bunga KUR tidak flat di semua siklus pinjaman. Untuk KUR Mikro dan KUR Kecil di sektor perdagangan non-ekspor, bunga naik bertahap seiring frekuensi pinjaman. Pinjaman pertama 6%, kedua 7%, ketiga 8%, keempat 9%. Bak pedang bermata dua bagi UMKM yang sudah berkali-kali mengakses KUR, beban bunga mereka perlahan mendekati kisaran kredit komersial.

Secara simulasi, debitur yang mengajukan Rp100 juta dengan tenor 12 bulan membayar angsuran sekitar Rp8,65 juta per bulan di BRI, sedikit lebih tinggi dibanding Mandiri di angka Rp8,61 juta. Selisihnya memang tipis, hampir tidak terasa di siklus bulanan. Tapi kalau tenor dipanjangkan ke 60 bulan, angsuran turun ke kisaran Rp1,98 juta untuk BRI dan Rp1,93 juta untuk Mandiri. Bagi pengusaha dengan cash flow ketat, perbedaan ini cukup berarti di level operasional harian.

Syarat dasarnya relatif standar: usaha produktif dan sudah berjalan minimal enam bulan, punya NIB dan NPWP, serta bersih dari catatan negatif di SLIK. Ada pengecualian menarik di KUR Super Mikro. Usaha yang belum genap enam bulan pun bisa mengajukan, asalkan memenuhi syarat tertentu, seperti mengikuti pelatihan kewirausahaan atau memiliki anggota keluarga dengan usaha produktif. Pintu terbuka bagi wirausahawan baru yang biasanya langsung terganjal persyaratan lama usaha.

Satu peringatan yang BRI tekankan keras: pengajuan KUR wajib melalui unit kerja resmi, bukan lewat tautan atau akun media sosial yang mengatasnamakan bank. Modus penipuan berkedok KUR makin marak, dan klaim ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, belum banyak didengar masyarakat luas. Untuk Mandiri, calon debitur bisa langsung datang ke cabang terdekat atau menghubungi Mandiri Call 14000.

Total biaya selama masa pinjaman, bukan sekadar cicilan bulanan, itulah angka yang seharusnya dihitung sebelum tanda tangan akad. KUR menawarkan jalur pembiayaan yang sulit ditandingi produk komersial mana pun di level bunga. Pertanyaannya, apakah semua debitur benar-benar membaca ketentuan kenaikan bunga per siklus sebelum tanda tangan? Banyak yang tidak.