KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Koreksi KOSPI Bikin Investor Global Lirik Ulang Pa...

Finansial

Koreksi KOSPI Bikin Investor Global Lirik Ulang Pasar Indonesia

Kejatuhan indeks KOSPI Korea Selatan hampir 40 persen sejak Juni 2026 memicu rebalancing dana asing di kawasan Asia, dan Indonesia mulai menangkap sebagian arus masuk itu lewat kombinasi valuasi murah, fundamental emiten yang solid, serta dividend yield yang kompetitif.

Koreksi Bursa Korea Buka Peluang Dana Asing Masuk ke Indonesia

Kospi sudah kehilangan hampir sepertiga nilainya sejak Juni 2026. Sekitar US$1,59 triliun nilai pasar lenyap begitu saja, bukan angka kecil. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak krisis keuangan global 2008, dipicu salah satunya oleh taruhan ritel yang salah arah: investor Korea memborong ETF saham tunggal berleverage senilai lebih dari US$19 miliar yang melacak Samsung Electronics dan SK Hynix, tepat di saat reli chip memori AI berbalik arah.

Dua nama besar itu menyumbang 76 persen dari total kerugian indeks. Dana berlipat ganda yang melacak SK Hynix di Hong Kong ambles 86 persen dari puncaknya di bulan Juni. Broker terpaksa melakukan forced selling, melikuidasi sekitar US$1,4 miliar posisi nasabah ritel sepanjang Juni-Juli. Pinjaman margin runtuh ke 27,4 triliun won, terendah sepanjang 2026.

Regulator Korea bereaksi, tapi terlambat. Menteri Keuangan Koo Yun-cheol meminta maaf di parlemen pada 29 Juli karena produk ETF berlipat ganda itu sudah disetujui tanpa pertimbangan yang cukup, persis di saat pasar sedang di puncaknya. Setoran minimum untuk trading produk tersebut langsung dinaikkan tiga kali lipat menjadi 30 juta won, dan volume harian di tujuh ETF sejenis untuk SK Hynix anjlok 90 persen.

Investor asing merespons lebih keras lagi. Rekor penjualan US$30 miliar terjadi di bulan Juni, berlanjut lebih dari US$10 miliar setelahnya. Trader ritel Korea sendiri, yang biasa disebut "semut", memilih lari ke Wall Street: pembelian saham AS mencapai US$4,6 miliar di bulan Juli, lima kali lipat dari Juni. Untuk pertama kalinya sejak Februari, pembelian saham asing melampaui domestik.

Di sinilah Indonesia mulai masuk dalam radar.

Executive Director CSA Institute David Sutyanto menilai tekanan di bursa Korea mendorong investor global mencari kombinasi value, income, dan fundamental yang tidak bergantung pada satu sektor saja. "Saya melihat peluang Indonesia menangkap dana asing yang keluar dari Korea Selatan cukup terbuka, tetapi belum terlihat adanya shifting besar secara langsung," ujarnya. Indonesia, kata David, punya cerita pertumbuhan yang berbeda: konsumsi domestik, hilirisasi, energi, dan komoditas. Bukan taruhan sempit pada satu siklus teknologi.

Angkanya mulai bicara. Dalam sebulan terakhir, net buy asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp 6,13 triliun, ditopang net buy di pasar negosiasi Rp 10,51 triliun meski pasar reguler masih net sell Rp 4,38 triliun. Kepemilikan saham asing per 7 Agustus 2026 naik ke 40,61 persen dari 40,29 persen di Juli, berdasarkan data KSEI. Kecil, tapi arahnya jelas.

"Akhir-akhir ini kelihatan bahwa investor asing sudah mulai masuk kembali ke pasar modal kita," sebut Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat dalam konferensi pers HUT Pasar Modal, Senin (10/8/2026). Angka itu memang masih jauh dari posisi awal tahun yang mencapai 43,54 persen, dan net sell sejak awal 2026 masih menumpuk sekitar Rp 70 triliun. Jadi jangan terlalu cepat bersulang.

Yang membuat tesis ini agaknya masuk akal adalah soal valuasi. IHSG sempat tertekan enam bulan berturut-turut sebelum akhirnya bangkit ke atas level 6.000 di bulan Juli. Harga saham turun, tapi laba emiten tidak ikut ambruk. Laba bersih seluruh emiten BEI pada kuartal I-2026 tumbuh 32 persen dibanding laporan tahunan 2025, sedangkan emiten LQ45 membukukan pertumbuhan laba hampir 14 persen. Sebanyak 74 persen perusahaan tercatat masih mencetak laba bersih. Price-to-earnings yang terkompres akibat koreksi harga tanpa penurunan fundamental, kalau data ini bisa dipercaya, bisa jadi titik masuk yang menarik bagi investor yang tahu cara baca laporan keuangan.

Dividen juga jadi argumen tersendiri. Sektor perbankan membagikan dividen Rp 71,06 triliun sepanjang 2026 berjalan, diikuti tambang mineral dan batubara Rp 20,9 triliun, perdagangan dan ritel Rp 13,2 triliun, telekomunikasi Rp 13,04 triliun, serta perkebunan Rp 12,53 triliun. Yield yang konkret. Bukan proyeksi pertumbuhan yang bergantung pada siklus chip global.

Majoritas bursa Asia Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Senin ini. Nikkei 225 naik tipis 0,2 persen, Hang Seng melonjak 1,5 persen, dan indeks CSI 300 serta Shanghai Composite sama-sama menguat 0,8 persen. Sentimen positif datang dari berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Bursa Korea sendiri tutup karena libur nasional.

Di Seoul, tekanan belum sepenuhnya reda. Bank of Korea memberi sinyal kenaikan suku bunga masih akan berlanjut setelah kenaikan 25 basis poin di Juli ke level 2,75 persen, dengan inflasi Juli tercatat 2,8 persen, melampaui target 2 persen. Morgan Stanley memperkirakan proses deleveraging sudah lebih dari separuh jalan, tapi kepercayaan investor belum pulih. Keputusan suku bunga BOK pada 27 Agustus menjadi ujian berikutnya.

Bagi investor Indonesia, pertanyaannya bukan apakah dana Korea bakal langsung parkir di IHSG. Itu terlalu optimistis. Pertanyaannya: apakah investor global yang sedang mereposisi portofolio Asia akan melirik bursa yang valuasinya murah, dividennya nyata, dan fundamentalnya masih tumbuh? Indonesia, setidaknya itu klaim datanya, masuk kualifikasi.