SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Keluarga Pendiri Borong BIRD, Saham Murah atau Mem...

Finansial

Keluarga Pendiri Borong BIRD, Saham Murah atau Memang Sudah Saatnya?

Indra Priawan Djokosoetono menyerok 1,2 juta saham Blue Bird tepat di ex date dividen, menyusul langkah sang pendiri Purnomo Prawiro yang lebih dulu mengguyur Rp78 miliar untuk 52,56 juta lembar saham di pertengahan Juni.

Bos Usia 30-an Borong Saham Murah Ini - Halaman all

Dua nama dari lingkar dalam Blue Bird kompak belanja saham BIRD dalam rentang dua pekan, dan keduanya menyebut tujuan yang sama: investasi.

Indra Priawan Djokosoetono, penerima manfaat akhir PT Blue Bird Tbk (BIRD) sekaligus menantu pendiri perusahaan, memborong 1,2 juta saham pada 29 dan 30 Juni 2026 di kisaran harga Rp1.600 per saham. Pasca-transaksi, kepemilikannya naik dari 149,18 juta lembar (5,962%) menjadi 150,38 juta saham. Bukan crossing besar, tapi konteksnya menarik.

Pembelian Indra tepat jatuh di ex date dividen, hari yang sama ketika saham BIRD dihajar koreksi 10,39% ke Rp1.510 karena efek ex dividend. Artinya, ia masuk bukan untuk kejar dividen, cum date sudah lewat pada 26 Juni. Ia masuk justru di saat harga amblas. Entah kebetulan atau tidak, momentum itu terasa disengaja.

Sebelum Indra, Purnomo Prawiro sudah lebih dulu bergerak. Pendiri Blue Bird itu menjala 52,56 juta saham pada 15 Juni 2026 dengan harga pelaksanaan Rp1.490 per lembar, total merogoh kocek Rp78,31 miliar. Koleksi sahamnya kini menebal jadi 354,85 juta lembar atau 14,182%, naik dari 12,082% sebelum transaksi. Dengan posisi segitu, Purnomo dipastikan meraup dividen sekitar Rp58,90 miliar saat pembayaran 10 Juli nanti. Tambahan 52,56 juta lembar itu saja menambah pundi dividennya Rp8,72 miliar, lumayan sebagai "bunga" dari modal yang diputar.

Dividen yang dibagikan BIRD memang tidak pelit. Total Rp415,34 miliar, atau Rp166 per saham, setara 65,32% dari laba bersih 2025 sebesar Rp635 miliar. Yield-nya terasa manis kalau dihitung dari harga saham yang kini cuma Rp1.525.

Di situlah letak argumentasi valuasi yang sulit diabaikan. PBV BIRD saat ini 0,60 kali, artinya pasar menghargai perusahaan ini di bawah nilai bukunya. Nilai buku per saham ada di kisaran Rp2.500-an, sementara harga di pasar cuma Rp1.525. PER annualized 6,14 kali, kapitalisasi pasar total Rp3,81 triliun. Terlalu murah, kalau bisa dipercaya angka ini, untuk perusahaan transportasi dengan armada sebesar Blue Bird.

Sisi operasional kuartal I 2026 memperlihatkan gambaran yang tidak sepenuhnya bersih. Pendapatan bersih tumbuh 11,5% secara tahunan menjadi Rp1,45 triliun, ditopang segmen taksi yang naik dari Rp911,5 miliar ke Rp1,02 triliun, plus kontribusi non-taksi yang ikut mekar ke Rp431,68 miliar. Laba bruto naik tipis 4,2% ke Rp444,71 miliar. Tapi beban langsung ikut membengkak, dari Rp875 miliar ke lebih dari Rp1 triliun, didorong kenaikan beban operasional dan penyusutan. Tekanan di lini bawah nyata.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya dibaca orang-orang dalam ini? Bisa jadi mereka melihat tekanan biaya sebagai sesuatu yang sementara, sementara valuasi terdiskon plus dividen jumbo menciptakan margin of safety yang cukup tebal. Atau mungkin mereka sekadar yakin pada bisnis keluarga sendiri. Yang jelas, ketika pemilik masuk dengan duit sungguhan, itu biasanya sinyal yang lebih jujur dari riset analis manapun.