KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  JPFA Cetak Laba Melonjak 167%, Pakan Ternak Makin...

Bisnis

JPFA Cetak Laba Melonjak 167%, Pakan Ternak Makin Seksi di Mata Analis

Laba bersih PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) meledak 166,9% secara tahunan di kuartal I 2026, sementara analis melihat momentum sektor pakan ternak masih jauh dari habis.

Kinerja Emiten Pakan Ternak Diproyeksi Masih Solid, Ini Rekomendasi Sahamnya

Laba bersih PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menyentuh Rp1,82 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 166,9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka yang sulit diabaikan, bahkan ketika pasar sedang rewel sekalipun.

Pendapatan bersih JPFA tercatat Rp17,71 triliun, naik 23,6% secara year-on-year. Margin laba bersih ikut mekar, dari 5,8% menjadi 7,1%. Ini bukan sekadar pertumbuhan topline yang dipoles kosmetik akuntansi, profitabilitas riilnya memang membaik.

Penjualan domestik masih jadi tulang punggung, menyumbang Rp16,89 triliun dari total pendapatan. Ekspor tercatat Rp364,84 miliar, sedangkan transaksi dengan pihak berelasi mencapai Rp452,55 miliar. Struktur pendapatan yang familiar bagi siapa pun yang sudah lama mengikuti emiten ini.

Mesin utama JPFA tetap bisnis pengolahan ayam lewat PT Ciomas Adisatwa, yang asetnya kini mencapai Rp11,82 triliun. Lini produk konsumen melalui PT Japfa Food Indonesia menyusul dengan aset Rp4,44 triliun, segmen yang beberapa tahun terakhir aktif didorong manajemen sebagai area ekspansi di luar pakan ternak konvensional.

Wait. Kalimat itu pakai em dash. Ganti: lini produk konsumen melalui PT Japfa Food Indonesia menyusul dengan aset Rp4,44 triliun, segmen yang beberapa tahun terakhir aktif didorong manajemen sebagai area ekspansi di luar pakan ternak konvensional. Total aset grup per akhir Maret 2026 tercatat Rp39,33 triliun.

Fondasi bisnis pakan sendiri tetap kokoh. PT Indojaya Agrinusa membukukan aset Rp4,04 triliun, PT Suri Tani Pemuka Rp3,9 triliun. Segmen akuakultur, vaksin hewan lewat PT Vaksindo Satwa Nusantara, hingga ekspansi regional ke Vietnam dan India melengkapi portofolio grup yang agaknya memang sengaja dibuat tidak mudah digoyahkan oleh satu siklus industri saja.

Kompetitor terdekat, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), juga mencetak kinerja solid: pendapatan Rp19,95 triliun, naik 12,7% YoY, dengan laba bersih Rp2,63 triliun. PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) membukukan pendapatan Rp3,69 triliun, tumbuh 17% YoY. Laba bersihnya secara tahunan justru melonjak 96% menjadi Rp123 miliar, meski secara kuartalan tergerus 52%.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, melihat momentum ini belum selesai. Harga ayam broiler diproyeksikan tetap kencang karena kondisi permintaan dan pasokan yang masih ketat. Katalis tambahan datang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang target penerimanya sudah naik dari 53,8 juta orang pada Desember 2025 menjadi 60,2 juta orang per Februari 2026. Kenaikan itu berpotensi mendorong permintaan ayam broiler sekitar 3,2%. "Pemulihan segmen makanan olahan juga berpotensi menjadi pendorong laba yang signifikan bagi emiten," ujar Brigita.

Bukan tanpa risiko, tentu. Harga soybean meal impor masih jadi ganjalan, dipicu produksi yang lesu di Brasil dan Argentina sebagai pemasok utama dunia. Tekanan itu nyata, meski sebagian bisa diredam oleh penurunan harga jagung domestik sekitar 3,8% secara QoQ di awal tahun. Margin segmen pakan, kalau data ini bisa dipercaya, masih bisa dijaga.

Dari meja analis, rekomendasinya kompak: beli semua. Phillip Sekuritas memasang target harga JPFA di Rp3.200 per saham. Indo Premier merekomendasikan beli CPIN dengan target Rp5.900. BRI Danareksa Sekuritas membidik MAIN di Rp1.700. Valuasi historis yang belum mahal, katalis struktural dari MBG, dan angka kuartal pertama yang melampaui ekspektasi. Kombinasi bak gayung bersambut, dan pasar tahu itu.