JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  ISAT Cetak Laba Rp1,49 Triliun di Q1 2026, Kontrak...

Finansial

ISAT Cetak Laba Rp1,49 Triliun di Q1 2026, Kontrak AI Neocloud USD170 Juta Jadi Taruhannya

Laba bersih Indosat Ooredoo Hutchison tumbuh 13,7% secara tahunan di kuartal pertama 2026, dengan ARPU melesat 15,3% dan kontrak AI Neocloud senilai USD170 juta menanti dimonetisasi.

Rp1,49 triliun. Itu laba bersih PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) di kuartal pertama 2026, tumbuh 13,7% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bukan angka yang bikin pasar euforia, tapi cukup solid untuk meredam kekhawatiran soal kompetisi tarif di industri telekomunikasi yang belum juga reda.

Pendapatan perseroan naik 12,1% year on year menjadi Rp15,22 triliun, ditopang segmen seluler, multimedia, data internet, dan fixed broadband yang kompak tumbuh. EBITDA tercatat Rp7,2 triliun, naik 12,9%, dengan margin bertahan di level 47,6%. Angka segitu, jujur saja, tidak banyak bergerak dari kuartal ke kuartal. Bagi investor institusi, justru itu yang dicari: konsistensi.

Yang lebih menarik perhatian agaknya bukan laba bersihnya. ARPU (average revenue per user) melonjak 15,3% menjadi Rp45 ribu per pelanggan, sementara basis pelanggan bertahan stabil di kisaran 94 juta. Kenaikan ARPU sebesar itu menunjukkan manajemen berhasil mendorong konsumsi layanan premium tanpa harus masuk ke lubang hitam perang diskon. Trafik data ikut meledak 25,1% secara tahunan menjadi 4.906 petabyte, seiring ekspansi jaringan yang kini mencakup sekitar 212 ribu BTS 4G.

Ciptadana Sekuritas Asia mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp2.500 per saham, berpotensi memberikan kenaikan sekitar 16,3% dari harga terakhir Rp2.150. Pertumbuhan monetisasi pelanggan dan profitabilitas yang resilien disebut sebagai dua fondasi utama thesis investasi ISAT saat ini, ditambah ekspansi bisnis berbasis AI yang mulai terasa kontribusinya.

Soal AI, ini layak dicermati lebih serius dari sekadar jargon. ISAT terus memoles posisinya sebagai "AI Native Telco" lewat kolaborasi dengan NVIDIA dan Google Gemini, mengembangkan layanan seperti Sahabat-AI dan SATSPAM. Yang lebih konkret secara finansial: bisnis AI Neocloud mereka sudah mengamankan kontrak senilai sekitar USD170 juta untuk tiga tahun. Manajemen mengklaim bisnis ini sudah memberikan kontribusi positif terhadap laba per saham dan arus kas bebas. Setidaknya itu klaim manajemen, dan pasar kini menunggu pembuktiannya.

Belanja modal kuartal ini melonjak 59,6% menjadi Rp4,18 triliun. Masif. Capex sebesar itu bisa dibaca dua cara: agresif dalam memperkuat jaringan dan kesiapan 5G, atau tekanan nyata pada arus kas jangka pendek. Pasar tampaknya memilih pembacaan pertama, setidaknya untuk saat ini.

Bagi investor yang juga mengincar income, ada dividen tunai Rp111 per saham yang menghasilkan estimasi dividend yield sekitar 5,3% berdasarkan harga saham terakhir Rp2.150, dengan payout ratio diperkirakan sekitar 65% dari laba. Bukan yield tertinggi di pasar, tapi cukup kompetitif untuk emiten dengan profil pertumbuhan seperti ISAT.

Risikonya? Ciptadana menyebut beberapa: pemulihan ARPU yang bisa lebih lambat dari ekspektasi, monetisasi AI yang belum tentu semulus proyeksi, dan persaingan rebutan pangsa pasar yang tidak akan berhenti begitu saja. Pertanyaannya adalah apakah kontrak AI Neocloud USD170 juta itu bisa dieksekusi penuh dan tepat waktu, atau hanya jadi angka manis di presentasi investor.