Selat Hormuz kembali mendidih. Iran pada Rabu (8/7/2026) menembakkan rudal ke Kuwait dan Bahrain, eskalasi paling tajam dalam konflik yang seharusnya sudah diredam oleh perjanjian deeskalasi yang ditandatangani kedua pihak bulan lalu.
Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan 85 situs militer AS di dua negara Teluk itu sebagai jawaban atas apa yang mereka sebut "pelanggaran gencatan senjata" oleh pihak Amerika. Tentara Kuwait mengonfirmasi sedang merespons serangan rudal dan drone, meski tidak menyebut secara eksplisit siapa pelakunya. Di Bahrain, sirene udara langsung diaktifkan, memerintahkan warga mencari perlindungan.
Washington punya versinya sendiri. CENTCOM menyatakan bahwa serangan ke Iran dilancarkan sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz. Lebih dari 80 target dihantam, mencakup sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali, kemampuan rudal anti-kapal, hingga perahu-perahu kecil IRGC. Tujuannya, kata Washington, untuk "memberikan kerugian besar atas penargetan dan penyerangan terhadap kapal dagang yang diawaki oleh warga sipil yang tidak bersalah di jalur perairan internasional."
Dua narasi saling membenarkan diri. Pola klasik eskalasi spiral.
Kronologinya sederhana, tapi menyeramkan. Gencatan senjata Iran-AS resmi berlaku sejak 8 April. Pada 19 Juni, kedua pihak bahkan sempat menandatangani langkah deeskalasi. Nyatanya, kondisi di lapangan tidak pernah benar-benar mengikuti apa yang tertulis di atas kertas. Pelanggaran terus terjadi, dan kini situasinya meledak.
Markas Besar Khatam al-Anbiya, lembaga militer pusat yang mengomandoi operasi besar angkatan bersenjata Iran, berjanji memberikan tanggapan tegas lebih lanjut. Mereka juga menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan AS ikut campur dalam urusan di sekitar Selat Hormuz. Seberapa jauh klaim itu bisa dieksekusi, mengingat superioritas militer AS di kawasan, agaknya masih menjadi tanda tanya besar.
Bagi pasar global, ancaman terbesar memang ada di Selat Hormuz. Sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia melewatinya setiap hari, menjadikannya urat nadi perdagangan energi global. Kalau selat itu sampai disumbat, harga minyak bisa meledak dan tekanan inflasi yang sudah susah payah diredam bank-bank sentral bisa kembali bangun dari tidurnya. Waktunya pun tidak bisa lebih buruk dari ini.
Buat investor di Jakarta, ini bukan sekadar berita geopolitik dari seberang lautan. IHSG dan rupiah punya sensitivitas tinggi terhadap gejolak harga minyak dan risk-off sentiment global. Tanpa sinyal deeskalasi dalam beberapa hari ke depan, bersiaplah melihat arus modal hengkang dari aset berisiko emerging market, termasuk Indonesia.