RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IPO JELI 7 Juli: Laba Inaco Melonjak 220%, Pendapa...

Finansial

IPO JELI 7 Juli: Laba Inaco Melonjak 220%, Pendapatan Sengaja Dipangkas

PT Niramas Utama Tbk (JELI) siap melantai di BEI pada 7 Juli 2026 dengan harga IPO Rp900 per saham, membawa modal kinerja laba bersih yang melonjak 220 persen menjadi Rp38,4 miliar berkat strategi pemangkasan SKU tidak produktif.

IPO INACO (JELI), JECX, & Prodia (PRDL) Ditawar Harga Segini, Minat?

Laba bersih melonjak 220 persen, pendapatan turun. Sekilas kontradiktif, tapi itulah yang justru dijual PT Niramas Utama Tbk (JELI) kepada calon investor menjelang debutnya di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.

Produsen dessert sehat bermerek INACO itu membukukan laba bersih Rp38,4 miliar di 2025, melejit dari Rp12,4 miliar setahun sebelumnya. Pendapatan? Tergerus 4,49 persen menjadi Rp753,01 miliar dari Rp788,4 miliar pada 2024. Bukan anomali. By design.

Direktur JELI Adhi S. Lukman menerangkan bahwa penurunan top line bukan cerminan melemahnya permintaan. Perseroan secara sengaja menghentikan sejumlah stock keeping unit (SKU) yang kurang produktif dan ber-margin tipis agar sumber daya bisa dialihkan ke produk dengan profitabilitas lebih tinggi. "Kita melakukan review terhadap portofolio produk dan unit yang kurang produktif, kemudian kita lakukan penyesuaian. Ada beberapa SKU yang kita hentikan, dan langkah tersebut justru memberikan dampak positif terhadap struktur kinerja Perseroan menjelang IPO," ujar Lukman dalam sesi C-Talks bersama Sucor Sekuritas, 24 Juni lalu.

Hasilnya cukup bicara sendiri. EBITDA naik 28,14 persen menjadi Rp102,3 miliar, Return on Equity (ROE) melonjak dari 9,81 persen menjadi 26,82 persen hanya dalam setahun. Debt to Equity Ratio (DER) pun menciut dari 3,41 kali di 2023 menjadi 2,79 kali di 2025, angka yang patut dicermati mengingat struktur utang perusahaan consumer goods kerap jadi pertimbangan investor institusi.

Untuk menahan tekanan biaya bahan baku akibat fluktuasi dolar, manajemen memilih jalur efisiensi ketimbang menaikkan harga jual. Reformulasi produk, digitalisasi lewat sistem SAP yang sudah berjalan sejak 2017, instalasi panel surya di 2025, hingga otomatisasi lini produksi menjadi andalan. Sebagian pendanaan untuk otomatisasi itu, agaknya, akan datang dari kas IPO.

Harga penawaran ditetapkan di Rp900 per saham, tepat di lantai kisaran awal Rp900-1.120. Jumlah saham yang ditawarkan pun dipangkas dari rencana semula 350 juta lembar menjadi 266 juta lembar, sehingga dana yang diraup mencapai Rp239,4 miliar. Masa penawaran berlangsung 1-3 Juli 2026 dengan Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi.

Sekitar 51 persen dana IPO itu akan disuntikkan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS) untuk ekspansi kapasitas produksi, khususnya kategori gummy candy. Taruhan besar berikutnya dari INACO. "Kita melakukan studi ke berbagai pasar internasional dan melihat adanya peluang besar di kategori gummy candy. Target kita adalah menghadirkan produk yang dapat dinikmati semua segmen usia, dengan tetap mengedepankan kualitas rasa dan aspek kesehatan," tambah Lukman.

Didirikan pada 1990, INACO kini mengoperasikan empat fasilitas produksi di Bekasi, Pontianak, Pandaan, dan Sukabumi. Lebih dari 115 SKU aktif tersebar ke 251 titik distribusi domestik, dan produknya sudah menembus lebih dari 30 negara. Sertifikasi Halal, BPOM, GMP, hingga ISO 22000:2018 ikut memperkuat narasi quality play yang ingin dijual manajemen kepada calon investor.

JELI tidak sendirian meramaikan bursa pekan depan. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), pengelola jaringan rumah sakit Jakarta Eye Center, mematok harga IPO Rp1.250 per saham dengan total nilai penawaran Rp609,97 miliar. PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) memilih batas atas kisaran harganya di Rp120 per saham, membidik dana Rp62,74 miliar. Ketiganya kompak membuka masa penawaran pada 1 Juli dan mencatatkan saham di BEI pada 7 Juli 2026.

Pertanyaannya tinggal satu: dengan harga yang ditetapkan di lantai kisaran, apakah pasar membaca ini sebagai diskon menarik, atau justru sinyal bahwa bookbuilding JELI tidak sekencang yang diharapkan?