Saham yang sudah amblas 35% sejak Januari, tapi bagi dividen hampir Rp500 per lembar. Itulah situasi yang dihadapi pemegang PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sekarang, dan buat sebagian investor, angka ini justru terasa menggiurkan.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang digelar Kamis (21/5/2026) di Jakarta resmi menyetujui pembagian dividen tunai senilai Rp1,53 triliun, setara Rp468 per saham, bersumber dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp2,24 triliun. Payout ratio-nya? Sekitar 68%. Sisa laba masuk ke saldo laba ditahan.
Dua harga, dua yield. Dengan penutupan INTP di Rp4.810 pada Kamis, yield dividen tercatat 9,73%. Keesokan harinya saham menguat ke Rp4.900, yield sedikit tergerus ke 9,55%. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja, apalagi kalau dibandingkan dengan imbal hasil deposito yang masih berkutat di 4-5%.
Bagi yang mengincar dividen, cum date di pasar reguler dan pasar negosiasi jatuh pada 3 Juni 2026. Ex dividen keesokan harinya, 4 Juni. Untuk pasar tunai, cum date 5 Juni dan ex date 8 Juni. Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak juga 5 Juni 2026 pukul 16.00 WIB. Pembayaran dilakukan 19 Juni 2026, dengan pajak dividen mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia.
"RUPST menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp468 per saham, tanpa memperhitungkan jumlah saham treasury hasil buyback perseroan," kata Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya dalam keterangan resmi.
Yang agaknya lebih bikin pasar bergerak adalah keputusan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung bersamaan. Dua agenda sekaligus: penarikan kembali 84,52 juta saham hasil buyback 2021-2022 melalui pengurangan modal ditempatkan dan disetor, sehingga modal disetor perseroan menjadi Rp1,715 triliun; plus program buyback baru senilai maksimal Rp750 miliar yang berlaku dari 22 Mei 2026 sampai 21 Mei 2027.
Dua aksi korporasi dalam satu hari. Buyback, dalam kondisi harga saham yang sudah tertekan, biasanya dibaca pasar sebagai sinyal manajemen menilai sahamnya terlalu murah. Entah kebetulan atau tidak, secara valuasi INTP memang terbilang miring: price to book value (PBV) 0,74 kali, price earning ratio (PER) 7,64 kali secara trailing twelve months. Emiten semen besar dengan PBV di bawah 1 bukan pemandangan yang terlalu sering kelihatan.
Di sisi organisasi, ada beberapa wajah baru. Roberto Callieri diangkat kembali sebagai Komisaris Utama hingga RUPST 2029. Hasan Imer, yang sudah di jajaran direksi sejak 2008, mengundurkan diri dan kursinya diisi Benny Setiawan Santoso. Satu nama baru juga masuk: Jose Maria Magrina Vadillo, yang akan menduduki posisi Wakil Direktur Utama efektif per 1 September 2026.
Christian melepas Hasan Imer dengan penghargaan tinggi. Hampir dua dekade bukan waktu yang singkat. Selama masa jabatannya, Hasan dikreditkan atas pembangunan Plant 14, ekspansi kapasitas di Cirebon dan Citeureup, peluncuran Semen Rajawali dan Mortar Tiga Roda, hingga integrasi semen Bosowa dan Grobogan ke standar produksi Indocement. "Pencapaian tersebut memastikan penerapan standar operasional yang sejalan dengan standar produksi Indocement, termasuk pada Semen Tiga Roda," kata Christian.
Pertanyaannya, cukupkah yield hampir 10% untuk mengkompensasi risiko saham yang sudah tergerus 35% sejak awal tahun, dengan tren industri semen yang belum menunjukkan pemulihan permintaan yang meyakinkan? Valuasinya memang murah, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi pasar punya alasan tersendiri kenapa INTP masih diparkir di level ini.