Bensin naik, bawang ikut-ikutan. Kombinasi itu cukup untuk mendorong inflasi Indonesia ke 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026, berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang dirilis awal pekan ini.
Secara bulanan, inflasi tercatat 0,44 persen. Kelompok transportasi jadi penyumbang terbesar dengan inflasi 2,29 persen dan andil 0,28 persen terhadap angka nasional. Komoditas bensin seorang diri menanggung 0,21 persen dari andil itu, disusul tarif angkutan udara 0,05 persen dan pelumas mesin 0,01 persen. Konsumen di Jawa Barat dan sejumlah daerah lain sudah merasakan efeknya di dompet.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut memberi tekanan, meski lebih ringan, dengan inflasi 0,20 persen dan andil 0,06 persen. Bawang merah menyumbang 0,04 persen, bawang putih 0,03 persen, beras 0,02 persen. Tiga komoditas yang sudah lama langganan bikin pusing BPS, dan agaknya belum akan pergi dari daftar itu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membaca situasi ini dengan cukup tenang. Ia menilai lonjakan inflasi Juni bukan sinyal permintaan domestik yang memanas, melainkan murni tekanan dari sisi harga komoditas yang fluktuatif. Inflasi inti yang terkendali di 2,76 persen yoy, atau 0,23 persen secara bulanan, jadi dasar keyakinannya.
"Basically gitu, kita liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (1/7/2026). Ia menambahkan bahwa tekanan dari BBM dan pangan seharusnya mereda dalam beberapa bulan mendatang, seiring harga minyak dunia yang sudah menunjukkan tren penurunan. Harga Pertamax, tegasnya, akan ikut menyesuaikan.
Argumen itu masuk akal di atas kertas. Kalau harga minyak global betul-betul melandai dan tidak ada guncangan baru dari sisi pasokan pangan, tekanan inflasi memang bisa surut lebih cepat dari yang dikhawatirkan. Tapi klaim itu tetap perlu dibuktikan oleh data bulan-bulan berikutnya, bukan sekadar proyeksi optimistis dari Kemenkeu. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan serupa juga pernah keluar dari Kemenkeu tahun lalu, tepat sebelum inflasi pangan kembali melonjak.
Selama inflasi inti masih di bawah 3 persen, Bank Indonesia punya ruang yang cukup untuk menahan kebijakan suku bunga tanpa perlu terburu-buru mengetatkan. Bagi pasar obligasi, itu sinyal yang lumayan nyaman. Untuk sementara.